Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 45

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 45by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 45My HEROINE [by Arczre] – Part 45 BAB III: DAUGHTER of DESTROYER Laras, sebuah nama yang disematkan ke seorang anaknya Cibi. Laras bukan saja tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, tapi juga menjadi gadis yang cerdas. Sejak kecil ia begitu menonjol dalam hal kecerdasan, Ningsih yang menjadi orang tua asuhnya pun mulai merawatnya dengan kasih […]

multixnxx-Black hair, Short hair, Asian, Bikini, Dog-5 multixnxx-Black hair, Short hair, Asian, Bikini, Dog-6 multixnxx-Black hair, Short hair, Asian, Bikini, Dog-7My HEROINE [by Arczre] – Part 45

BAB III: DAUGHTER of DESTROYER

Laras, sebuah nama yang disematkan ke seorang anaknya Cibi. Laras bukan saja tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, tapi juga menjadi gadis yang cerdas. Sejak kecil ia begitu menonjol dalam hal kecerdasan, Ningsih yang menjadi orang tua asuhnya pun mulai merawatnya dengan kasih sayang. Mendidiknya seperti ibunya sendiri. Ningsih selalu dipanggilnya ibu, walaupun dia seorang pelacur, tapi naluriahnya sebagai seorang ibu tiba-tiba muncul begitu saja.

Ya, jangan ditanya dari mana Laras bisa hidup. Semuanya dari pekerjaan Ningsih melayani lelaki hidung belang. Mengikuti Cibi, Ningsih pun jadi wanita panggilan high class. Namun semua uang yang diperolehnya ditabung untuk kebutuhan Laras. Laras tak pernah tahu apa pekerjaan Ningsih sebenarnya. Sampai kemudian ketika telah cukup umur barulah Ningsih memberitahu Laras tentang kebenaran yang selama ini terus ia jaga.

Ilustrasi Laras

Laras dengan darah blesteran, sangat unik dengan rambut pirangnya. Wajahnya cantik, tentu saja khas orang Kaukasia. Tentunya semuanya bakal mengira dia adalah seorang bule. Percampuran antara darah orang Eropa dan Asia telah melahirkan seorang gadis cantik yang jadi pujaan semua cowok di sekolahnya. Senyumnya sangat manis bahkan lebih manis daripada madu.

Laras tentu saja sangat shock ketika mengetahui bahwa ibu kandungnya berada di rumah sakit jiwa. Bagaimana tidak shock melihat orang tua kandungnya terus mengigau bahkan diceritakan dulu pernah hampir saja membunuhnya? Tapi Laras bukan seorang yang pendendam. Dia mengerti keadaan ibunya dan mau menerimanya. Bahkan dia meyayangi ibu kandungnya dan Ningsih. Laras pun akhirnya hampir setiap minggu menjenguk ibunya.

Seperti hari itu. Dia baru pulang sekolah mampir ke Rumah Sakit Jiwa menemui ibu kandungnya. Dia sengaja membawa kue basah untuk ibunya. Mereka bertemu di taman, tentu saja dengan diawasi oleh petugas rumah sakit, sebab kadang-kadang Cibi bisa kumat secara tiba-iba.

“Ibu, nih aku beli kue tadi!” kata Laras. “Makan yuk!? Nggak apa-apa kan mbak?”

Perawat rumah sakit hanya mengangguk. Dia seorang wanita yang tampangnya datar. Mungkin dikarenakan terlalu lama bersama orang-orang gila ini membuatnya juga sedikit senewen tanpa ekspresi, baik ia senang ataupun sedih.

“Bagaimana keadaan ibu? Sehat ya?” Laras mengeluarkan kue bikang. Kemudian mulai menyuapi ibunya. Ibunya menurut saja dan mulai mengunyah kue basah itu.

“Ibu, hari ini aku ditembak ama cowok. Dia lumayan ganteng sih, tapi aku nggak ada feel. Enaknya gimana yah? Diterima atau ditolak? Bingung juga sih. Dia sebenarnya sih nggak ganteng-ganteng amat, tapi menyenangkan saja kalau di dekatnya. Tapi dia nggak tahu kehidupanku seperti apa, takutnya kalau dia tahu aku anaknya ibu dia akan shock. Tapi aku senang koq kalau selalu di dekat ibu. Nggak masalah aku nggak punya apa-apa, asalkan bersama ibu terus.”

“Elemental seorang yang punya kekuatan mampu berbicara dengan elemen. Balancer seorang yang mempunyai kekuatan seperti elemental tapi dia mampu memberikan kekuatan elemental kepada manusia lainnya. Mist seorang yang punya kekuatan mampu berbicara dengan banyak hal dan hidup dengan salju. Destroyer seorang yang mampu menghancurkan elemen, menghancurkan banyak hal. Creator seseorang yang bisa membuat apa saja,” Cibi bergumam seperti itu sambil berbisik.

Beruntungnya, Laras bukan seorang Destroyer. Darah Destroyer mengalir di dalam tubuhnya. Hanya saja dia tak pernah faham tentang elemental. Ia juga tak punya kekuatan elemental. Sama sekali tidak. Ternyata darah Destroyer tidak ingin bangkit oleh seorang wanita. Sehingga kekuatan besarnya tetap di sana.

Begitulah kebiasaan Laras sekarang. Curhat kepada ibunya yang punya gangguan mental. Dia terus mengajak ibunya bicara setiap minggu walaupun terkadang dia yakin tidak akan pernah didengar.

Laras sore hari baru pulang. Dia punya pekerjaan baru sekarang sebagai seorang kasir di sebuah mini market. Jadi ketika pulang sore itu ia langsung ke mini market. Gajinya cukup lumayan bagi anak seukuran dia. Dia bekerja karena dipaksa oleh Ningsih.

“Lo harus kerja!” begitu kata Ningsih.

“Tapi, kenapa ma?” tanya Laras yang memang memanggil Ningsih dengan sebutan mama.

“Lo tahu sendiri pekerjaan aku ini apa. Nggak mungkin aku memaksamu makan dengan uang haram hasil pekerjaanku”

Laras tak bisa membantah mamanya. Ia menghela nafas. “Ya, aku tahu. Tapi aku tak keberatan koq, ma. Aku sadar posisiku. Mama sudah merawatku sejak kecil dan aku bisa memaklumi itu kalau….” Mulut Laras ditutup oleh tangan Ningsih.

“Tidak Laras, kamu harus cari kerja sendiri sekarang. Kamu sudah dewasa. Carilah pekerjaan yang halal untuk perut kamu. Kamu tak boleh mengikuti cara mama atau pun ibumu. Ingat, kamu adalah seorang gadis dewasa. Kamu harus kuat. Kita hidup pas-pasan sekarang ini. Mama mohon, kamu harus kuat dan cari pekerjaan. Mama sudah tak mau lagi menghidupi kamu.”

Melihat keinginan keras mamanya akhirnya Laras cari pekerjaan. Ningsih tetap mau biayain dia sekolah, tapi untuk makan maka Laras harus cari uang sendiri. Begitulah yang diajarkannya.

Laras jadi primadona di sekolahnya. Banyak yang naksir. Selain perawakannya seperti bule, karena memang keturunan Thomas, dia juga cerdas. Seluruh guru suka kepadanya, terlebih nilainya selalu sempurna. IQ-nya juga di atas rata-rata. Banyak cowok yang nembak dia, tapi Laras terlalu sibuk dengan dunianya sehingga tak ada satupun cowok yang sanggup menaklukkannya.

Sebenarnya ada cowok yang naksir dia sejak lama. Namanya Rangga. Rangga, seorang anak yang juga cerdas. Saingan Laras malah. Hanya saja nasibnya lebih baik daripada Laras. Dia adalah anak orang kaya, orang tuanya adalah pejabat dan priyayi. Maka pastilah kehidupan mereka sangat mewah dan terhormat.

Usaha Rangga mendekati Laras, penuh perjuangan. Dari mulai sekedar say HI, sampai akhirnya mulai jalan bareng, pergi bareng, hingga Laras menganggap Rangga adalah sahabatnya. Sesuatu yang tak pernah diduga oleh Laras mungkin adalah kata-kata “I Love You” yang meluncur begitu saja dari bibir Rangga.

Sebagaimana yang terjadi hari itu. Mereka menunggu bis berteduh di halte. Hujan turun dengan derasnya sehingga tak menyisakan satupun bagian bumi yang kering dan berdebu. Semuanya basah, bahkan di salah satu sudut jalan yang berlubang pun tampak air sudah menggenang, memberikan efek muncrat ke segala arah ketika ada kendaraan yang melintas membelahnya.

“Makin deras aja nih,” kata Rangga.

“Yup, mana harus kerja lagi ntar sore,” kata Laras.

“Kamu masih jadi kasir di mini market itu?”

“Iyalah, mau gimana lagi?”

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Rangga.

“Apaan?”

“Kamu sudah punya pacar?”

“Hahaha, pacar. Mikir aja nggak pernah Ga”

“Kalau aku jadi pacarmu mau?”

“Cieeehh…maksudnya nembak aku, nih?”

“Tergantung presepsimu aja sih. Ini nembak apa nggak”

“Hahahaha, Rangga, Rangga. Kamu ntar nyesel lho tahu siapa aku. Yang lebih cantik dari aku kan masih banyak. Yang dari keluarga terhormat kan masih banyak. Kenapa harus aku?”

“Apa aku harus punya alasan untuk mencintai seseorang?”

Laras sedikit kaget, ia pun menjawab terbata-bata, “I…iya dong, harus.”

“Kenapa harus?”

“Hmm…begini, kalau kita makan bukankah itu karena kita lapar? Kalau kita minum bukankan karena kita itu haus? Benar bukan? Trus kamu suka aku karena apa?”

Rangga tersenyum. Entah kenapa Laras waktu itu berdebar hatinya melihat senyuman cowok ini. Dia pun sekarang sedikit gugup.

“Aku suka karena jiwaku sudah memilihmu,” jawab Rangga.

“Haha…hah? Apa?”

“AKu suka karena jiwaku sudah memilihmu, salah ya?”

“B…bukan begitu, mana bisa? Itu bukan alasan yang masuk akal!”

“Terserah deh. Yang penting aku sudah bilang”

“Itu…..arrghh!” Laras langsung membelakangi Rangga. Ia mau pergi juga nggak mungkin karena hujan. Mana di halte itu cuma mereka berdua, tak ada yang lain. Jalan raya pun sepi. Tak ada motor ataupun mobil yang lewat. Mereka seperti berada di sebuah tempat yang sepi dan tak ada siapapun di sana.

Rangga memegang tangan Laras, kemudian menariknya sehingga Laras langsung berbalik dan hinggap di pelukan Rangga.

“Bagaimana aku bisa tidak mencintaimu kalau kamu tak cerita tentang dirimu? Tapi yakinlah apapun yang kamu ceritakan tentang dirimu, tak akan mengubahku,” kata Rangga.

“Tapi Ngga…”

Rangga pun makin erat mendekap Laras. “AKu cinta kamu. Itu saja sudah cukup”

“Aku akan ceritakan mengenai diriku. Agar kamu tahu siapa sebenarnya aku”

Akhirnya Laras pun menceritakan segala hal tentang dirinya, tentang ibunya, tentang ibu angkatnya. Sampai ia menangis. Tapi Rangga tak melepaskan Laras. Ia mengusap-usap rambut Laras yang duduk di sebelahnya yang bersandar ke bahunya.

“Sekarang kamu ngerti kan?” kata Laras. “Aku tak bisa disandingkan dengan dirimu”

“Tidak, siapa bilang? Kamu berbeda. Kamu bukan mamamu, kamu bukan ibumu. Kalau mereka punya dosa kenapa kamu juga harus ikut kena dosa itu? Itu tidak adil namanya!” Rangga lalu memutar badannya dan memegang bahu Laras. “Dengarlah! Aku akan menjagamu, aku akan membelamu, siapapun yang menghina dan merendahkanmu aku akan menjadi perisaimu. Laras, aku akan ada di sampingmu selalu”

“Rangga…,” mata Laras berkaca-kaca.

Suasana di halte itu pun lebih hangat ketika Rangga meluapkan perasaannya dengan sebuah ciuman di bibir Laras. Sebuah pelukan hangat memberikan rasa nyaman kepada Laras. Baginya ciuman pertamanya itu adalah ciuman yang paling romantis seumur hidupnya.

*****o*****

Rangga dan Laras berpacaran. Hingga kemudian Rangga kuliah tapi Laras tidak kuliah. Laras lebih memilih bekerja. Padahal di anak seusianya ia termasuk anak yang cerdas, pintar dan pasti akan mendapatkan beasiswa kalau ia mau. Tapi ia lebih memilih untuk bekerja. Hubungan Rangga dan Laras masih lanjut, mereka masih berpacaran hingga akhirnya hal itu diketahui oleh kedua orang tua Rangga.

Di suatu sore Rangga sedang membaca buku di teras rumahnya. Saat itulah papanya ikut duduk di sebelahnya.

“Nggak keluar?” tanya papanya.

“Nggak pah,” jawab Rangga.

“Papa tahu akhir-akhir ini kamu dekat dengan seorang gadis. Siapa dia?”

Rangga menoleh ke arahnya. “Papa tahu?”

“Ya tentu saja papa tahu, kebetulan kemarin papa melihatmu sedang mengantar seorang gadis ke sebuah mini market. Siapa dia? Ceritakan ke papa. Siapa orang tuanya? Bagaimana anaknya?”

Rangga ragu. Ia merasa orang tuanya tak akan menerima Laras. Ia tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Bagaimana kalau mereka tahu kehidupan Laras? Mereka pasti tak akan menerimanya. Tapi Rangga juga nggak pernah berpikir sejauh itu, sampai-sampai berpikir kepada konsekuensi atas tindakan yang dia terima. Bisa jadi ia akan dipaksa menjauhi Laras, bisa jadi juga Laras akan dipaksa menjauh. Rangga belum siap untuk menceritakan Laras, tapi papanya sudah mengetahuinya.

Ia masih belum siap.

“Nanti ya pa, saat ini aku belum bisa menceritakannya.”

“Kenapa?”

“Masih belum yakin”

“Belum yakin? Kenapa?”

“Rangga takut papa nggak bakal setuju”

“Hmm? Kenapa memangnya?”

“Papa mau berjanji kepadaku?”

“Katakan saja!”

“Apapun pilihan Rangga nanti papa bakal setuju, tidak protes kepada Rangga”

Papanya Rangga makin penasaran. “Papa makin penasaran ama gadis itu”

“Please deh pa, kalau papa memang menyayangiku papa akan merestui pilihanku. Siapapun dia”

“Gini saja, ajak dia kemari biar papa dan mama tahu siapa dia sebenarnya”

“Tidak, menurut Rangga nanti aja. Rangga belum siap”

Papanya pun hanya menghela nafas, “Baiklah, papa akan menunggu sampai kamu siap.”

“Oke pah,” ucap Rangga sambil tersenyum kepada papanya.

Usaha Papanya Rangga untuk memaksa Rangga agar bertemu dengan Laras tak membuahkan hasil. Akhirnya sang ayah pun menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki siapa Laras yang sesungguhnya. Penyelidikan itu tanpa diketahui oleh Rangga. Hubungan Rangga dan Laras pun berjalan seperti biasanya.

Sementara itu dalam diri Laras ada sesuatu yang tidak ia mengerti. Dia tiba-tiba seperti dibisiki oleh sesuatu.

Suatu ketika ia sedang membersihkan rumah. Ada sesuatu yang menyapanya. Tapi ia tak bisa melihatnya.

“Hai Laras!?” sapa sesuatu.

Laras terkejut.

“Si…siapa?” ia menoleh kiri kanan. Ia ketakutan tentu saja karena tak ada orang tapi ada yang berbicara.

“Kamu tak perlu takut, aku adalah udara yang ada di sekitarmu namaku Windy!”

Satu hal yang tidak dimiliki oleh para elemental lain adalah Laras bisa berbicara dengan elemental seperti layaknya berbicara dengan manusia. Kalau para elemental lainnya berbicara dengan bisikan hati, tapi Laras tidak. Sekalipun dia tidak bisa menjadi Destroyer, tapi kekuatan berbicara dengan elemen dia mempunyainya. Bahkan lebih baik, ia berbicara seperti manusia.

“Nggak mungkin, bagaimana bisa?” kata Laras.

“Kamu tak perlu terkejut. Ayahmu seorang Destroyer, di dalam darahmu mengalir kekuatan yang luar biasa. Kamu bisa berbicara dengan seluruh elemen. Kamu bisa berbicara dengan mereka semuanya. Setiap benda di rumahmu ada elemen-elemennya,” kata Windy.

Laras tak mengerti ia masih ketakutan.

“Hai Laras!? Kamu jangan takut, kami bisa berbicara denganmu koq. Namaku Ggi, aku elemen bumi. Perintah saja aku, aku akan bisa bergerak sesuai yang engkau inginkan!” kata Ggi elemen bumi.

Laras makin terkejut. Ia mencoba menutupi telinganya.

“Kamu tak perlu takut Laras, kami adalah temanmu. Coba perintahkan saja apa yang harus kami lakukan, kami akan membentuk sesuatu yang kamu inginkan!”

Laras mengerutkan dahi. Ia tak mengerti. Laras pun lari keluar rumah. Ia menyangka yang berbicara dengan dirinya di rumah adalah hantu. Saking takutnya ia pun keluar rumah dengan tubuh gemetar. Begitu ia sampai di luar rumah. Ia mengambil nafas karena terengah-engah. Ia sudah turun dari apartemennya, lalu bersandar di sebuah pohon besar yang tumbuh di dekat halaman parkir apartemen.

“Hai Laras!?” sapa sebuah suara.

“Sii..siapa? Kenapa kamu selalu mengikutiku?”

“Kamu tak perlu takut, kami semua elemen-elemen yang ada di sekitarmu. Aku adalah Wowry, pohon yang kamu buat untuk bersandar,” kata Wowry.

Laras kaget dan langsung menghindar dari pohon itu.

“Tak perlu takut. Kamu ingin bukti kami bukan khayalan bukan? Lihatlah aku akan bergerak ke arahmu, membungkuk”

Terkejut sudah pasti. Laras hampir saja melompat ketika melihat pohon yang ada di depannya tiba-tiba merendah. Akhirnya ia pun percaya.

“Jadi…yang dikatakan oleh ibuku benar ternyata”

“Iya, ibumu tidak salah. Kami tahu semua tentang kisahmu. Semua elemen di tempat tinggalmu ini tahu semuanya. Tanyalah kepada kami, kami akan bercerita banyak hal mengenai kedua orang tuamu,” kata Wowry.

Akhirnya Laras mulai sadar kekuatan yang ada pada dirinya. Hal itu pun dimanfaatkan olehnya untuk bisa curhat kepada elemen-elemen yang ada di sekitarnya. Awalnya ia seperti orang gila bicara-bicara sendiri, tapi akhirnya ia bisa mengendalikan sikapnya. Ningsih, ibu angkatnya pun sempat heran melihat Laras bicara sendiri tapi setelah itu ia tak menganggapnya serius. Toh Laras masih normal dan wajar tidak seperti ibunya.

Setelah Laras mengetahui semua tentang orang tuanya dan kekuatannya, ia pun lebih banyak berinteraksi dengan alam. Ia lebih banyak berbicara dengan seluruh elemen yang ada di sekitarnya, dia lebih seperti seorang Mist daripada seorang Destroyer ataupun Elemental. Namun dia memang seorang keturunan Destroyer, hanya saja kekuatan sebagai Destroyer tak akan pernah bisa dia keluarkan karena darah Destroyer tak memilihnya.

Laras pun pergi ke rumah sakit jiwa tempat ibunya berada. Melihat kondisi ibunya sekarang ia pun sadar, bahwa beban mental ibunya sangat berat. Melihat sendiri bagaimana ibunya sekarang membuatnya menjadi tambah sedih.

“Ibu, aku sudah tahu semuanya,” kata Laras.

Cibi menoleh ke arah Laras.

“Aku tahu siapa diriku sekarang, kekuatan ayahku sekarang menurun ke diriku. Aku kira ibu selama ini nggak waras, tapi sekarang aku mengerti,” kata Laras. “Ibu pasti shock selama ini, tapi jangan takut ibu. Ada aku yang bisa mengerti semuanya.”

“Kamu…..tahu?”

“Iya, aku tahu. Aku bisa bicara dengan banyak elemen. Tapi aku tidak ingin seperti ayahku. Aku sekarang percaya kepada ibu”

“Pergi kamu, jangan lihat ibu lagi! Ibu sangat takut hari ini akan terjadi, ayahmu menurunkan kekuatan iblis kepadamu. Ibu sudah menduganya. Kamu akan dikutuk oleh kekuatan itu seumur hidupmu”

“Aku tidak takut ibu, aku akan menghadapinya. Yang penting sekarang aku akan melakukan yang terbaik. Aku tahu ketakutan ibu terhadapku, mulai sekarang aku hanya akan menemui ibu dengan cara seperti ini. Aku mengerti semuanya, tapi aku masih sayang kepada ibu,” Laras mencium kening ibunya. Hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.

Author: 

Related Posts