Cerita Sex Tusuk Konde

Cerita Sex Tusuk Kondeby adminon.Cerita Sex Tusuk KondeTusuk Konde Hikayat Sang Ronggeng Primadona Jatinegara, Jakarta 1961 Gesekan alat musik Teh-yan yg mengiris jiwa, berpadu dengan suara pukulan kendang-kempul yg menyesakan kalbu, berselaras dengan tiupan suling yg menggetarkan sukma dan lengkingan cempreng sang biduan yg membawakan tembang jali-jali dalam mengiringi tarian sang ronggeng yg meliuk-liukan tubuhnya dengan gemulai atau sesekali menggoyang-goyangkan bokongnya dengan […]

multixnxx- Kyoka Mizusawa Maika Miu Watanabe Megu-7 multixnxx- Kyoka Mizusawa Maika Miu Watanabe Megu-8 multixnxx- Kyoka Mizusawa Maika Miu Watanabe Megu-9Tusuk Konde

Hikayat Sang Ronggeng Primadona

Jatinegara, Jakarta 1961

Gesekan alat musik Teh-yan yg mengiris jiwa, berpadu dengan suara pukulan kendang-kempul yg menyesakan kalbu, berselaras dengan tiupan suling yg menggetarkan sukma dan lengkingan cempreng sang biduan yg membawakan tembang jali-jali dalam mengiringi tarian sang ronggeng yg meliuk-liukan tubuhnya dengan gemulai atau sesekali menggoyang-goyangkan bokongnya dengan kasar, yg membuat syahwat ratusan lelaki yg berkerumun menyaksikannya berdesir menahan birahinya.

Malam yg semakin larut tidak mengurangi agresifitas sang ronggeng dalam meliuk-liukan tubuhnya, justru semakin malam semakin liar mereka mempermainkan syahwat para penonton, goyangan yg semakin binal dan cenderung mesum itulah yg membuat para pengunjung yg mayoritas adalah kaum adam semakin blingsatan, yel-yel dan teriakan memberi semangat berkali-kali terlontar dari mulut yg beraroma alkohol.

Geyooooll terusssss neng.

Sampe pagiiiii.

Para pengunjung yg datang berasal dari berbagai penjuru Jakarta, dari beragam status sosial dan profesi, mulai dari kuli panggul, pedagang, supir, kusir delman, sampai saudagar besar, bahkan para anak buah kapal yg sengaja datang dari pelabuhan tanjung priok pun menyempatkan diri jauh-jauh datang untuk mencari hiburan setelah berhari-hari hanya bergoyang dengan ombak dilautan. Tentu saja para pengunjung yg hadir tidak semata-mata datang hanya untuk menonton tarian sang ronggeng.

Bukan hal yg asing lagi kalau ronggeng-ronggeng dari gambang kromong Kembang-Goyang pimpinan Lie tjong peng ini terkenal di seantero Jakarta dengan ronggeng-ronggeng cantiknya, dan yg pasti tidak hanya bisa diajak bergoyang diarena pertunjukan, bahkan juga bisa diajak bergoyang diranjang semalam suntuk, namun dengan harga yg tidak murah juga tentunya. Karna para ronggeng yg berjumlah tidak lebih dari 8 orang itu, tak mungkin dapat menampung hasrat birahi para penonton yg jumlahnya ratusan itu.

Namun, hukum ekonomilah yg memainkan perannya untuk melakukan seleksi, dan hanya pengunjung yg berani membayar dengan harga yg pantaslah yg berhak memboyong sang ronggeng untuk nancep semalam suntuk.
Dan untuk para pemodal kecil, tak perlu menggigit jari, karna disekitar area itu banyak bertebaran penjual-penjual daging mentah yg menjajakan diri dengan tarif yg jauh lebih murah. Namun, kembali hukum ekonomi memainkan perannya, ada harga ada rupa tentunya, sehingga mereka harus puas dengan penjaja cinta yg penampilan dan wajahnya tidak sementereng para ronggeng.

Wooiii panjak(pemain musik) maenin gua lagu pecah-piring, gua mau ngibing ini malem.. teriak salah satu penonton sambil berdiri bertolak pinggang ditengah arena, perpenampilan lelaki setengah baya itu cukup perlente untuk kala itu, dengan setelan celana pantaloon dan kemeja lengan panjang, serta sepatu kulit mengkilat menghiasi kakinya, topi laken yg dikenakannya menandakan dirinya adalah seorang saudagar sapi.

Para panjak serta merta menghentikan permainannya, seraya mengarahkan pandangannya pada lie tjong peng yg merupakan boss mereka, sang boss yg sudah berpuluh tahun menggeluti bisnis cokek gambang kromong ini sejenak memperhatikan si perlente bertopi laken, seraya tersenyum pada siperlente dan mengibaskan tangannya kepada para panjak sebagai tanda untuk menuruti apa yg diinginkan siperlente bertopi laken.

Irama gambang kromong , yg adalah merupakan adaptasi dari kesenian yg berasal dari tionghoa itu kembali memecahkan malam dipelataran yg letaknya hanya beberapa ratus meter kearah selatan dari stasiun kereta api jatinegara itu. siperlente bertopi laken mulai meliuk-liukan tangannya menyerupai gerakan pencak silat, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya mengikuti irama musik, dari sorot matanya yg sayu dan agak kemerahan menandakan dirinya dalam pengaruh minuman keras. Sejurus kemudian gerakan tubuhnya bermanuver menyamping, bagaikan ayam jantan yg sedang menyeredeng ayam betina kearah Romlah, seorang primadona yg baru dua bulan menjadi ronggeng.

Sang ronggeng yg sadar bahwa sang cukong berkantong tebal begitu bernafsu dengannya, naluri komersilnyapun mulai bekerja, senyumnya yg memabukan mulai dibentang, seraya dikalungkannya selendang merah jambu pada leher si perlente, hup..dapat kau ikan kakap, pikir romlah, lembaran-lembaran rupiah yg akan didapatnya pada malam itu telah terbayang didalam otak komersilnya.

Siperlente semakin menjadi manakala selendang telah dikalungkan kelehernya oleh ronggeng incarannya itu, seraya bibirnya mulai dimonyong-monyongkan kearah wajah romlah yg memegang kedua ujung selendang dihadapannya, sementara penonton semakin bersorak-sorak, terutama dua orang yg pengawal yg selalu mengiringi siperlente.

****
Dari bangku kayu panjang tanpa sandaran yg merupakan tempat duduk para ronggeng yg menunggu giliran untuk menari, tampak sorot mata tak senang terpancar dari wajah mumun, salah seorang ronggeng yg sebelum kehadiran romlah disana adalah seorang primadona, namun kini eksistensinya sebagai primadona praktis tergusur oleh romlah. sesekali mumun meludah dibarengi dengan gerutuan dari mulutnya.

Lagu pecah-piring yg diminta si perlente bertopi laken telah usai, romlah kembali duduk diantara deretan para ronggeng yg duduk berjejer dibangku kayu tanpa sandaran, yg disambut oleh pandangan sinis dari mumun yg menjadi seterunya.

Lagu duri rembang, kini dimainkan untuk mengiringi aksi ronggeng berikutnya. Si perlente bertopi laken menghampiri lie tjong peng dengan pongahnya.

Heh, koh.. itu anak buah lu nyang barusan ngibing sama gua, pengen gua bawa buat nemenin gua ini malem.. ujarnya sambil menggebrakan telapak tangannya dimeja.

Haiyaa.. itu weles lah, yg penting lu belani wayal dengan halga yg pantes, itu longgeng walang walu punya.. walang wagus terang lie tjong peng, mulai membuka transaksi bisnisnya.

Heh.. koh, lu kagak kenal gua? Mat-Roji, sodagar sampi dari setia budi, itu semua peternakan sampi di kuningan gua nyang punya. jangankan itu ronggeng ini semua alat-alat gambang kromong lu, beserta anak-anak buah lu sekalian, kalo perlu bisa gua bayar Sekarang gua mau tanya, berapa lu pinta untuk bisa gua boyong tuh ronggeng.. gertak si perlente.

Merasa pancingannya mengena, lie tjong peng mulai tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang tonggos bak kapak puting beliung.

Haiyaaa siapa yang tida kenal mat-loji, cukong sapi dali setia-wudi, untuk lu olang gua kasi halga pelkenalan lah, cukup selibu pelak, lu bisa bawa itu longgeng ujarnya, seraya mengipas-ngipaskan tubuhnya dengan kipas kayu cendana.

Si perlente melepas topi lakennya, ternyata pada bagian dalamnya terdapat reseleting, ditariknya ujung reseleting, didalamnya terdapat beberapa lembar uang, sesekali mata sipit lie tjong peng melirik kearah topi mat-roji.

Nih, lu minta serebu, gua kasih lu serebu maratus.. ujar mat roji, sambil menghempaskan beberapa lembar uang kertas diatas meja. Bukan kepalang senangnya lie tjong peng, padahal harga seribu rupiah yg dikatakannya sebagai harga perkenalan itupun sudah merupakan harga diatas rata-rata. Kini masih ditambah lima ratus pula, setara dengan harga satu ekor sapi terbesar yg dimiliki sang saudagar.

Kamsiaaa telima kasiii owe jamin lu olang gak wakal kecewa, itu walang wagus punya, pelayanan wagus, goyang wagus he..he..he.. ujar lie tjong peng, sambil menghitung uang yg diberikan mat roji.

Nyang bener lu koh awas kalo lu bo-ong, gua tarik nih kumis lu nyang kayak buntut tikus he..he..he.. ancamnya, sambil menunjuk kearah kumis lie jtong peng.

He..he..he.. jangankan kumis, ini kalo owe bo-ong, kontol owe pun bisa elu olang talik he..he..he.. balas lie tjong peng, sambil tertawa terkekeh-kekeh, membuat matanya yg sipit terlihat hanya seperti garis.

Jajaran luh koh siapa sudi narik-narik batang kontol luh, kontol elu bau minyak babi he..he..he.. kelakarnya.

Lie tjong peng melambaikan tangannya memanggil romlah, yg segera dituruti oleh romlah. Seraya lie tjong peng membisikan sesuatu kepadanya, mungkin memberikan romlah semacam briefing khusus untuk memberikan servis yg baik kepada pelanggan spesialnya ini.

Besok pukul sepuluh pagi, owe punya olang bakal jemput itu longgeng dali hotel ujar lie tjong peng kepada mat roji, sambil melepas romlah yg merupakan aset berharganya untuk disewakan oleh juragan sapi itu.

Beres lah koh, tar gua balikin nih ronggeng lu, dalem keadaan masing utuh.. paling-paling cuman nonoknya aja nyang lecet dikit, kena gesekan kontol gua he..he..he.. ujar mat roji, orang disekitarnya hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataannya yg kasar dan seronok.

Lie tjong peng walaupun mengeksploitasi para ronggengnya dengan cara seperti itu, namun tidak bisa seenaknya para pelanggannya memperlakukan ronggeng-ronggengnya. Lie tjong peng akan membiarkan apapun yg dilakukan oleh sipelanggan bila hanya sebatas hubungan seks yg wajar, namun jangan sampai ronggengnya disakiti secara pisik, apalagi sampai menciderainya, dia tidak akan segan-segan memberi pelajaran bagi sipelanggan. tukang kepruk bahkan aparat keamanan yg dibayarnya setiap kali dia menggelar pertunjukan akan menghajarnya habis-habisan pelanggan tersebut sesuai dengan perintah lie tjong peng. Itulah salah satu perlindungan yg diberikan lie tjong peng yg membuat para ronggeng asuhannya merasa nyaman walaupun harus memberikan separuh penghasilannya untuk lie tjong peng. Seperti halnya pada malam itu, mat roji membayar 1500 rupiah kepada lie tjong peng, itu artinya besok selepas romlah selesai melaksanakan tugasnya, lie tjong peng akan memberikannya sebanyak 750 rupiah. Dan bukan hanya itu, lie tjong peng juga menanggung semua tempat tinggal dan makan bagi semua ronggeng dan para musisi gambang kromong kembang-goyang yg dipimpinnya.

Mobil sedan Cadillac warna hitam meluncur membawa romlah dan mat roji menuju kearah hotel disekitar jatinegara. Romlah dan mat roji duduk dibelakang, sementara dua pengawalnya berada didepan termasuk yg mengemudikan.

Romlah, wanita muda berusia sekitar 21 tahun memang pantas menjadi primadona bagi gambang kromong kembang goyang, disamping wajahnya yg cantik dan kulitnya yg putih bersih, yg juga menarik perhatian adalah romlah merupakan wanita indo, sehingga tubuhnya yg tinggi dengan hidung yg bangir, serta matanya yg agak kebiruan, membuatnya tampak lebih mentereng dari ronggeng-ronggeng yg lain.

*****
Adalah Rogayah, yg sebelum jepang datang menancapkan kuku-kukunya dibumi nusantara, rogayah bekerja sebagai babu pada keluarga thomas van der someth, seorang tuan tanah belanda pemilik perkebunan karet di depok. Penampilan rogayah yg manis dengan tubuhnya yg sintal membuat sang menir terpincut dengan sang babu, hingga terjadilah hubungan terlarang yg dilakukan secara diam-diam hingga rogayah hamil. Saat diketahui hamil, rogayah dialihkan kedaerah pasar minggu oleh thomas untuk menghindari amukan dari sang istri tentunya, segala kebutuhan rogayah dipenuhi semuanya oleh Thomas, dari mulai mengandung sampai rogayah melahirkan bayi perempuan yg cantik, yg oleh sang ayah diberi nama Romince van der someth, namun lidah orang-orang pribumi lebih suka menyebutnya Romlah.

Kasih sayang dan perhatian sang menir berlanjut hingga romlah berusia 3 tahun, sebelum akhirnya jepang datang ke Indonesia, sehingga Thomas beserta seluruh keluarga besarnya hengkang ke negeri belanda, bersama-sama dengan ribuan orang-orang belanda lainnya yg selama 3 setengah abad bercokol dinegeri ini.

Sepeninggalan Thomas, rogayah lah kini sendiri yg membanting tulang untuk mempertahankan hidupnya dan si gadis kecil. Berbagai pekerjaan dilakukannya demi untuk mendapatkan makan untuk sekedar dapat menyambung hidup. Mulai dari tukang cuci serdadu jepang, babu untuk keluarga pribumi yg memiliki posisi penting bagi kepentingan sang saudara-tua, sampai akhirnya terpaksa melacurkan diri sebagai penampung hasrat birahi serdadu-serdadu dai-nipon, karna sudah tak ada lagi pekerjaan lain yg didapat pada masa sulit itu.

Keadaan yg sulit selama pendudukan jepang, menyebabkan rogayah dan romlah berpindah dari satu rumah bordir kerumah bordir yg lain, mulai dari glodok, kemayoran, sampai kwitang.

Hingga Indonesia merdeka, Pendudukan jepang yg hanya seumur jagung itu masih menyisahkan derita dan trauma yg cukup mendalam bagi masyarakat indonesia, walau tidak bisa dipungkiri bahwa jepang juga telah mewariskan keterampilan militer bagi pemuda Indonesia dengan pembentukan Heiho nya.

Dan untuk rogayah, jepang juga memberikan “wariskan khusus”, yaitu penyakit sipilis yg didapatnya dari serdadu-serdadu dai-nippon, dan kian lama penyakitnya itu semakin memburuk, dan mencapai pada stadium akhir, hingga akhirnya maut menjembut wanita malang itu, rogayah menghembuskan nafasnya yg terakhir di rumah makan cina didaerah pecenongan tempatnya terakhir ia bekerja sebagai babu, dengan meninggalkan romlah, putri semata wayangnya yg masih berusia 7 tahun.
Beruntung keluarga tionghoa pemilik rumah makan tersebut bermurah hati untuk menampungnya, walaupun romlah harus melakukan pekerjaan seperti almarhumah ibunya dulu, yaitu membantu mencuci piring, bersih-bersih, menimba air dll, cukup berat memang untuk anak sekecil itu, namun keadaanlah yg membentuknya menjadi karakter yg kuat dan ulet, sehingga tangan mungil romlah akhirnya terbiasa dengan pekerjaan itu semua.

Umur 16 tahun, romlah tumbuh sebagai gadis remaja yg cantik, darah belanda yg diwariskan sang ayah begitu dominan pada postur tubuhnya yg menjulang tinggi, dengan buah dada dan bokong yg membentuk bukit,sehingga terlihat sekal, dan tentunya kulitnya yg putih bersih serta hidungnya yg bangir, namun warna rambut dan tekstur wajahnya masih dapat dikenali bahwa romlah masih memiliki darah pribumi.

Praktis kehadiran romlah menjadikan magnet tersendiri bagi rumah makan itu, sehingga banyak menarik pengunjung, diantaranya yg menaruh hati padanya adalah Kosim, anak pedagang daging dipasar tanah abang. Yg pada akhirnya ketampanan kosim dapat merebut hati romlah, dan menjadi istrinya. Namun perkawinan mereka tak berlangsung lama, hanya 2 tahun. Setelah selama itu romlah tidak berhasil memberinya keturunan, akhirnya kosim menceraikannya. Sehingga kembalilah romlah ketempat asalnya sebagai pelayan rumah makan di pecenongan.

Lie tjong peng memang selalu memperhatikan anak buahnya, satu minggu sekali biasanya dia memboyong anak-anak buahnya, yg adalah para pemain musik gambang kromong, dan tentu saja para sindennya untuk makan-makan diluar diberbagai restoran disekitar jakarta, salah satunya yg sempat dikunjunginya adalah rumah makan tempat romlah bekerja.
Gaya hidup para ronggeng yg saat itu terlihat glamor dengan pakaian-pakaian yg indah serta perhiasan yg menyerupai toko emas berjalan, menarik perhatiaan romlah, hingga terjalin obrolan-obrolan kecil diantara mereka, yg akhirnya romlah memberanikan diri untuk berbicara dengan lie tjong peng agar dirinya diperkenankan bergabung dengan mereka. Penampilan romlah yg diatas rata-rata dari para ronggengnya saat itu, tentu membuat naluri bisnis lie tjong peng terangsang, ikan mendekati jaring, pikirnya, tak perlu dia bersusah payah untuk menyeroknya hingga mendapatkan aset berharga seperti romlah, bahkan romlah yg mendatanginya sendiri. Akhirnya romlah bergabung dengan mereka, setelah selama dua minggu ditatar oleh Mak hindun, seorang ronggeng senior yg telah pensiun, yg memang direkrut oleh lie tjong peng sebagai pelatih para ronggengnya.

Bukan hanya cara menari yg diajarkan oleh mak hindun. Sebagai ronggeng senior yg telah banyak makan asam garamnya dunia ronggeng, tentu mak hindun telah paham betul apa-apa saja yg harus dibekali bagi seorang ronggeng agar dapat sukses dan berkibar didunia peronggengan. Dan urusan ranjang, itulah yg terpenting, itulah yg menjadi fokus utama mak hindun dalam mentatar anak-anak didiknya, bagaimana cara melayani seorang lelaki hingga membuat lelaki itu klepek-klepek dan keranjingan kepadanya, tentu dengan penjelasan yg ditail dan gamblang sehingga dapat dipahami dan dicerna oleh sang calon ronggeng.

Hasil kerja keras mak hindun memang tidak percuma, kini berhasil dicetaknya seorang ronggeng yg memiliki nilai jual yg cukup tinggi, dialah romlah.

******
Nafsu birahinya yg telah memuncak semenjak di arena ngibing tadi membuat mat roji langsung menerkam romlah, kini seluruh hasratnya akan ditumpahkannya di kamar hotel itu. Ruangan hotel yg cukup mewah pada masa itu, hotel yg telah berdiri semenjak pemerintahan hindia belanda.

Disosornya dengan bernafsu leher romlah yg jenjang dengan mulutnya yg masih tercium aroma alkohol, romlah menggelinjang. Mat roji walaupun usianya hampir mendekati kepala lima namun masih memiliki penampilan yg bisa dibilang gagah untuk seorang laki-laki, tubuhnya yg tegap dengan dadanya yg bidang ditumbuhi oleh bulu, serta cambangnya yg menyerong kedepan sehingga nyaris menyambung dengan kumisnya, membuat wanita bergetar saat mendapatkan sentuhannya, tak terkecuali dengan romlah, yg walaupun telah terbiasa dengan sentuhan puluhan lelaki dengan berbagai type.

Tanda-tanda merah tampak mulai membekas pada lehernya yg putih akibat cupangan mulut mat roji, kini mat roji mulai mendaratkan mulutnya pada bibir romlah, mulut romlah kini mulai membuka, sehingga dengan leluasa mat roji mengulum bibir bawah romlah, yg dibalas oleh romlah dengan menghisap-hisap bibir atas mat roji, kini mereka saling berpagutan. Aroma alkohol pada mulut mat roji tak dihiraukan lagi oleh romlah, sentuhan laki-laki itu lebih memabukannya ketimbang bau aroma alkohol dari mulutnya.

Mat roji mulai melepaskan kebaya dan kain jarik yg melekat pada tubuh romlah, sehingga hanya menyisakan kemben dan celana dalam . tubuh mulus romlah membuat mata mat roji melotot, seraya ditelusurinya sekujur tubuh romlah dengan hidung dan mulutnya bagaikan seekor anjing pelacak yg sedang mencari jejak sang buronan. Akhirnya dengan kasar dilepaskannya kemben yg membalut buah dada romlah, sehingga memperlihatkan kedua bukit kembar yg bulat dan besar menyembul dihadapannya.

Bujug buneeeng baru kali ini gua ngeliat tetek nyang botoh kayak begini nyang begini nih baru resep.. ujarnya, sambil melotot memandangi buah dada romlah yg besar dengan puting susunya yg merah jambu.

Kenape bang? Emang nye abang belon pernah ngeliat tetek hi..hi..hi.. goda romlah, yg merasa tersanjung atas sikap saudagar sapi itu.

Ngeliat tetek sih sering neng, tapi nyang demplon,botoh,montok kayak begini, baru kali ini. Apalagi bini-bini gua, teteknya udah mulai pada kendor, mana pentilnya pada item-item lagi, gak resep acan dah gua mau ngemot-ngemotnya juga

Ya udah bang, emot aja tetek aye, kenape diliatin mulu.. ujar romlah menggoda, yg saat itu masih berdiri bersandar dibibir meja, sambil menggigit-gigit ujung jari telunjuknya, sementara sebelah matanya sesekali dikedip-kedipkan kearah mat roji.

Karuan menyaksikan tingkah romlah yg begitu kenes dan menggoda membuat mat roji langsung mengulum buah dada romlah, dikulumnya secara bergantian puting susunya satu persatu. Puas mengulum buah dadanya, kini mat roji mulai membuka celana dalam romlah, semakin melotot matanya menyaksikan sekerat daging dihadapannya.

busseeett ini nonok cakep bangeeettt.. teriaknya, seraya diciuminya dengan rakus. Disibaknya dengan kedua ibu jarinya sehingga memperlihatkan bagian dalam vagina romlah yg berwarna merah, sangat kontras sekali dengan kulitnya yg putih. Kini lidahnya mulai dijulurkan dan dijilatinya dengan rakus kesetiap sudut wilayah liangnya, termasuk klitorisnya yg sesekali dikulum-kulumnya.

Aaaaaauuuuwww. Enak bang, terus bang terus jilatin nonok aye bang iya itil aye bang, aaaahhhh gumam romlah, sambil menjambak rambut mat roji.

Puas mengoral memek romlah, mat roji berdiri seraya melepaskan seluruh pakaian yg melekat pada tubuhnya, batang kontolnya tampak sudah berdiri tegak. Namun maksud mat roji yg ingin langsung menghujamkan batang kontolnya kelubang memek romlah harus tertunda, karna tiba tiba romlah justru mendorong tubuh mat roji hingga terjerembab telentang diatas ranjang.

” Samber gledek luh, ngapa lu jorogin gua? ” makinya, karna merasa syahwatnya yg telah sampai diubun-ubun, dan batang torpedonya telah menagih untuk dihujamkan kesasaran yg diinginkannya masih tak terlaksana. Namun makiannya langsung berubah 180 derajat manakala batang kontolnya merasakan belian lembut dari mulut romlah yg mengoral zakarnya. Mulutnya separuh menganga dan matanya sesekali terpejam menikmati permainan oral romlah.

” Aaaaaaaaahhh…. Sedep banget dah…. elu emang paling pinter bikin gua senewen….aaahhh ” gumamnya, sambil tangannya membelai-belai kepala romlah.

Sekitar lima menit romlah memberikan servis oral kepada pelanggan spesialnya itu, setidaknya itu yg dikatakan lie tjong peng. Kini dikangkanginya tubuh mat roji dari atas, seraya dia berjongkok dan digenggamnya batang kontol mat roji, bless.. memek romlah yg sudah basah semenjak mat roji mengoralnya memudahkan masuknya batang kontol mat roji menembus masuk kedalam liang memeknya.

Mulai digerakannya naik turun pantatnya sleb..sleb..sleb.. batang kontol mat roji yg cukup besar berpenetrasi didalam memek romlah.

” Pegimane bang, enak? ” tanya romlah, sambil terus menaik turunkan pantatnya.

” Jangan ditanya dah, enak banget… nonok lu legit banget neng….zzzzz..aaahhh ”

” Pengen digeyol gak bang? ”

” Digeyol pegimana? ” tanya mat roji, namun belum terjawab pertanyaannya, romlah tiba tiba memutar bokongnya bagaikan mesin molen yg sedang mengaduk campuran semen dan pasir.

” Begini bang, ini namanya digeyol bang, kayak waktu tadi kita ngibing di bulagan..” terang romlah, sambil terus memutar bokongnya sambil kedua tangannya bertumpu pada pada paha mat roji.

” Bujug..bujug..bujug.. Adaaawww…. Samber gledek luh… gila dah, bisa copot batang kontol gua… tapi mantep juga sih… tapi pelan pelan ya neng, tar patah beneran dah kontol abang..bisa mera’bal gua ” gumam mat roji.

Bukan mengurangi kecepatan goyangannya, justru semakin lama semakin dahsyat romlah beraksi, sesekali putarannya dialihkan kearah yg berlawanan secara tiba tiba, sehingga batang kontol mat roji benar benar bagaikan dipuntir puntir sedemikian rupa, yg membuatnya semakin kelojotan.

” Adah…dah.dah..dah.. Udah dah, gua nyerah dah.. biasa aja dah.. Lu balikin dah kayak nyang tadi lagi..” ujar mat roji, dengan nafas yg terengah engah.

Romlah kembali menaik turunkan bokongnya naik turun secara berirama, setelah tadi memberikan sedikit shok therapi kepada mat roji.

Tiba tiba mat roji bangkit dari posisi telentangnya, dan mendorong tubuh romlah, sehingga kini sebaliknya romlah yg berada dibawah, seraya digenjotkannya pantatnya dengan sekuat tenaga dengan posisi misionari

” Nih sekarang lu rasain pembalesan gua.. Gua rojok nonok lu… Gua kaja lecet…”

Hantaman mat roji yg demikian cepat dan bertenaga membuat tubuh romlah bergoyang-goyang seirama hantaman bokong mat roji, plok..plok..plok.. Cukup keras pula suara tumbukan yg dikeluarkan sehingga sangat gaduh suasana didalam ruangan tersebut yg berpadu dengan erangan romlah dan umpatan-umpatan mat roji.

” Aaaaaahhhh… Terus bang.. Entot nonok aye bang… Aaaaahhh enak baaaang….” erang romlah, sambil kedua tangannya meremas remas kedua buah dadanya.

Gerakan mat roji semakin ganas, seperti ingin dilumatnya tubuh romlah. Kipas angin listrik yg terpasang diruangan tersebut tak lagi mampu berbuat banyak untuk dapat menetralisir panas tubuh keduanya, keringat sebesar biji biji jagung terlihat menetes dari tubuhnya, tubuhnya yg kehitaman mulai bermandikan peluh, kontras dengan tubuh romlah yg putih yg juga tampak berkilat

Hingga terdengar lenguhan keras dari mulut mat roji, pertanda syahwatnya telah mencapai puncak pelepasan, bermili-mili liter air mani yg dimuntahkan kedalam rahim romlah.

Hanya berselang beberapa detik romlah merasakan hal yg sama, hantaman kontol yg membombardir liang vaginanya dengan demikian dahsyatnya akhirnya mampu membobol pertahanannya, pekikan tertahan keluar dari mulutnya bersamaan dengan keluarnya cairan bening dari liang memeknya.

Kini hantaman bokong mat roji tinggal menyisakan satu dua, dan akhirnya berhenti sama sekali, diakhiri gedekan lepala mat roji yg bagaikan orang baru saja selesai buang air kecil.

Plup.. Dicabutnya batang kontol dari liang memek yg telah banjir, baik oleh sperma mat roji maupun oleh air mani romlah.
” Fuiihhh…emang lu bener bener mantep, barang lu legit.. Oh iya, siapa nama lu neng? ” ujar mat roji, seraya merebahkan tubuhnya disamping romlah.

” Ah, abang.. Udah maen satu kali cangkulan, baru nanyain nama aye.. Saye romlah bang ”

” Oh romlah.. lu tau kagak siapa gua? ”

” Ngapain kagak bang, mat roji, sodagar sampi dari setia budi, nyang kosohor bininye banyak hi..hi..hi..”

” Jajaran lu, ngapain lu bawa-bawa bini gua.. Eh, ngomong-ngomong kenapa kontol gua masing bediri aja ya, berarti emang bener-bener manjur tuh tangkur buaya dari si juned..” ujar mat roji, seraya mengamati batang zakarnya yg masih tegak walaupun telah mencapai orgasme. Tak sia-sia sebelumnya dia mengkomsumsi tangkur buaya yg direndam dengan minuman keras, dan minuman keras itulah yg diminumnya sebelum dia meluncur kearena ngibing.

” Masing mau nancep lagi bang ? ” tawar romlah, sambil mengelus elus batang kontol mat roji.

” Ntar, gua rehat dulu bentaran..”

Sentuhan tangan romlah yg membelai belai batang kontolnya membuat birahinya kembali bangkit, seraya dia menggeserkan tubuhnya kebawah dan membalik tubuh romlah, kini romlah dalam posisi tertelungkup.

” Nonggeng lu neng.. Gua penasaran banget ama pantat lu nyang demplon ” ujar mat roji, meminta agar romlah menungging.

Dari belakang mat roji mulai beraksi mencium dan menjilati memek romlah, sesekali jilatannya menyusuri area buah pantatnya yg bulat, yg tampak terlihat lebih menantang dengan posisi doggie-style seperti itu, hingga lidah mat roji kini mulai menggelitiki lubang anus romlah.

” Zzzzzzzzz…..aaaaaahhhhhh… Enak banget bang, abang gak geli jilatin lobang dubur aye? ” gumam romlah, menikmati sentuhan lidah mat roji pada analnya.

” Ngapain geli..mmmm.. Srryyuff..srryyuuff..nyemm..nyemm..” jawab mat roji
Hampir lima menit mat roji mencicipi lubang anus romlah, aromanya yg khas membuatnya semakin keranjingan.

” Jangan dijilatin doangan bang, dimasukan dong pake kontol abang..” tantang romlah

” Nyang bener nih… Bener lu mau gua monon..? ” ujar mat roji, seolah tak percaya akan ajakan romlah.

” Ngapain bo-ong bang, Ayo bang… Bo-ol aye selalu siap di monon ame abang hi..hi..hi..” goda romlah genit.

” Elu emang luar biasa dah, emang bener tuh yg dibilang si cina sengkek, elu emang barang bagus..he..he..he..” ujar mat roji, seraya diposisikan tubuhnya membelakangi bokong romlah.

Mat roji mulai mengarahkan ujung rudalnya kearah lubang anus romlah, setelah terlebih dulu dibalurinya dengan air liurnya.

” Seumur-umur baru kali ini gua monon lobang bo-ol, pernah sih tempo ari gua menta ama bini gua, tapi kagak ada nyang mau.. Pucuk dicinta ulam tiba, ternyata elu nyang nawarin kendiri he..he..he..” ujar mat roji, seraya didorongkannya batang kontolnya kedalam anus romlah, bless.. Amblaslah batang kontolnya didalam anus romlah, sensasi anal seks untuk yg pertama kalinya bagi saudagar sapi itu.
Jepitan anus romlah yg sempit memberikan kenikmatan tersendiri bagi mat roji, sambil menggerakan bokongnya maju mundur matanya tampak setengah terpejam.

” Zzzzzzzzz…aaaaaaaahhhhh.. Emang sedep banget dah bo-ol elu…uuuuhhh ” gumam mat roji

” Iya bang… Monon terus bo-ol aye bang… Entotin bo-ol aye bang..Enak khan bang..? ” racau romlah

Racauan romlah membuat birahi mat roji semakin menggebu, hingga hantaman kontolnya yg menghujami anus romlah semakin cepat dan bertenaga. Membuat romlah yg berposisi menungging tampak terguncang guncang.

Hingga akhirnya mat roji merasakan klimaks yg kedua kalinya, dan klimaks anal seks yg pertama dalam hidupnya.

” Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhh…. Bajingaaaaan.. Gua ngecrot lagi…” teriaknya dengan cukup keras, seolah tak peduli bahwa teriakannya dapat terdengar dari luar ruangan itu.

Akhirnya gerakan pantat mat roji terhenti, seraya dicabutnya batang kontolnya dari lubang anus romlah, tampak lelehan spermanya keluar dari sela sela anus romlah, sebagian menetes di sprei ranjang, dan sebagian lagi meleleh dipaha romlah.

Untuk yg kedua kalinya kembali mat roji menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, tampak wajahnya yg letih bagai habis melakukan pekerjaan yg begitu melelahkan, namun dari wajahnya tergambarkan senyum, senyum kepuasan.

” Haduuuuhh… Puas bener gua ini malem… Eh neng, elu emang udah sering di monon kayak tadi? ” tanya mat roji, seraya merangkul romlah yg merebahkan kepalanya didada mat roji sambil memain mainkan bulu dadanya yg lebat.

” Ah, kagak juga sih bang… Cuman untuk orang-orang nyang aye suka aje nyang aye kasih, kalo nyang laennya mah kagak bang” jawab romlah, sebuah jawaban yg sama ia berikan kepada setiap lelaki yg tidur dengannya tentunya, sekedar untuk menarik simpati, dengan harapan akan keluar dengan lancar lembaran lembaran rupiah sebagai uang tip.

” Ah, elu sih emang paling bisa’ ” ujar mat roji,seraya meremas bokong romlah, yg disusul oleh pekik manja romlah.

Malam itu mat roji menumpahkan segala angan birahinya kepada romlah, wanita yg menurutnya dapat memberikan semua angan birahi yg ada didalam benaknya, dan tentunya yg tidak bisa didapatkannya dari istri-strinya yg berjumlah lebih dari setengah lusin itu. Ramuan tangkur buaya yg diminumnya bersama dengan minuman keras menjadikannya doping yg ampuh sebagai penunjang staminanya untuk “pertempuran” hingga dini.

*******
Tok..tok…tok.. Pagi itu dari pintu kamar hotel tempat romlah dan mat roji memacu birahi semalam suntuk terdengar diketuk dari luar.

Dengan hanya mengenakan cawat yg membungkus auratnya mat roji membuka pintu.

” Siapa luh tong? ” tanya mat roji, seraya mengarahkan mulutnya yg menguap lebar tepat kearah orang didepan pintu. Pemuda tanggung berperawakan kurus dengan kopiah lusuh dikepalanya hanya menunduk tanpa berani memprotes walaupun pagi itu harus mencium “harumnya” nafas mat roji.

” Saya jongosnya babah lie, disuruh sama babah lie jemput mpok romlah..” jelasnya, masih dengan kepala menunduk kebawah.

Dengan membonceng sepeda onthel pada pemuda kurus itu, romlah kembali ketempat dia bersama rekan rekannya ditampung, tentunya dengan membawa tip 500 rupiah yg diselipkan di kutangnya oleh mat roji sebelum dia pulang, sebagai tanda puas atas servis spesialnya yg diberikan.

*******
Siang yang panas membuat tubuh lelaki yg sedang memacu birahinya itu bermandi peluh. Tubuhnya yg besar berotot tampak berkilat, nafasnya yg memburu menandakan birahinya sedang berada dalam tensi yg memuncak, hempasan bokongnya naik turun mempenetrasikan batang zakarnya pada liang vagina mumun, seorang ronggeng yg siang itu sedang melayani hasrat birahi Bagol, lelaki berusia tiga puluhan, dengan wajah kasar dan kumis melintang hingga dipipinya, yg adalah seorang jawara pasar jatinegara yg disegani.

Goyangan pinggul sang ronggeng yg mengimbangi hempasan bokongnya akhirnya menyudahi pendakiannya, seiring puncak birahinya yg telah mencapai pelepasan.

” Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh…” erangnya, diikuti dengan semprotan sperma kedalam rahim mumun.

Rampung menyelesaikan hajatnya, tubuh berotot itu ambruk bagaikan pohon tumbang menimpa tubuh mumun yg berada dibawahnya.

Tubuh mumun yg tak seberapa besar dibandingkan sang jawara membuat nafasnya tersendat, dengan susah payah didorongnya tubuh sang jawara yg telah loyo itu hingga kini tergolek diam disampingnya.

Tangan dengan jemarinya yg lentik itu meraih kotak rokok diatas meja disampingnya, seraya dinyalakannya.

” Gua kagak mau tau, ini malem lu musti abisin tuh sundel..” ujar mumun, seraya menghembuskan asap rokoknya sambil masih berbaring telentang.

” Emangnya lu bukan sundel ? ” ujar bagol, masih telungkup lemas sambil memejamkan matanya.

” Sialan luh..” balas mumun, sambil menepuk punggung bagol. yg ditepuk hanya tersenyum sambil masih memejamkan matanya.

” Heh.. Bang bagol, lu denger gua kagak.. abis ngentot langsung molor aja lu. Pokoknye besok gua harus denger kalo si romlah itu udah mampus ” ujar mumun, sambil tak henti hentinya mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

” Beres dah, elu serahin aja semuanya sama si bagol… Gua ahlinya urusan begituan, pokoknya besok pagi lu pasang kuping baek-baek, lu bakalan denger kabar kematiannye si romlah. sekarang jangan lu ganggu gua dulu, gua capek, pengen tidur ” jelas bagol, seraya membalikan tubuhnya membelakangi mumun.

Cukup puas mumun mendengar ucapan bagol. Ia tau betul bagol memang cukup bisa diandalkan untuk urusan yg satu itu, dan mumun tau pula bahwa selain sebagai seorang centeng pasar, bagol juga mempunyai pekerjaan sampingan sebagai pembunuh bayaran. Untuk itulah beberapa minggu belakangan ini mumun kerap mendekati lelaki itu, layanan seks cuma-cuma rela diberikannya kepada bagol untuk mencapai maksudnya itu, yaitu melenyapkan romlah yg telah merampas predikat ronggeng primadona yg pernah ia sandangnya beberapa bulan lalu sebelum kehadiran romlah. Senyum kedengkian tampak tergambar dari bibirnya yg seksi, seraya dihisapnya lagi rokok ditangannya.

******

Malam itu hujan mengguyuri tanah jakarta dengan derasnya. Dari dalam pondok yg berukuran tak lebih dari 9 meter persegi, romlah duduk didepan cermin, gulungan sanggul pada rambutnya yg sebelumnya telah dipasang dilepasnya kembali setelah didengarnya kabar bahwa malam itu pertunjukan cokek batal dilaksanakan dikarenakan hujan yg semakin deras.

Dari luar pondok yg gelap tampak sepasang mata mengawasinya dari sela-sela papan kayu yg menjadi dinding pada pondok itu. Kilatan cahaya halilintar yg hanya sepersekian detik menyoroti dengan jelas wajah kasar dengan kumis melintangnya yg sedang mengintai dengan mata tak berkedip bagaikan seekor harimau yg sedang mengamati calon mangsanya, ya, dialah bagol, seorang centeng suruhan mumun yg akan menuntaskan tugasnya malam itu juga.

Romlah yg masih didepan meja rias dengan hanya diterangi oleh cahaya lampu sentir dikejutkan oleh sosok tubuh dibelakangnya yg terlihat dari kaca rias. Secara reflek perempuan itu mengibaskan tusuk konde yg masih didalam pegangannya kearah sosok dibelakangnya. Bagol yg bermaksud ingin membekap romlah dari belakang tampak terhuyung kebelakang setelah dirasakannya sesuatu mengiris pipi kirinya.

Merasa sesuatu sedang mengancam jiwanya, wanita itu bermaksud berteriak, namun suara teriakannya yg hanya sebentar tak mampu menembus suara gemuruh hujan dan halilintar yg begitu mendominasi dimalam itu, sehingga rekan-rekan romlah yg sebetulnya bersebelahan kamar dan hanya dibatasi oleh dinding kayu tak dapat mendengarnya. Hingga akhirnya dengan gerakannya yg sigap bagol dapat melumpuhkannya. dipegangnya pegelangan tangan romlah yg menghunus tusuk konde, sementara tangan yg lain mencekik pada batang leher, seraya dijegal kakinya sehingga tubuh sintal itu terjatuh dilantai, praktis kini bagol menguasai sepenuhnya diri romlah.

Tenaga romlah yg tak seberapa besar dibandingkan dengan centeng yg sudah begitu terlatih dan berbadan besar pula, tentu tak dapat berbuat banyak. Matanya mulai mendelik seiring dengan cengkraman tangan bagol yg semakin keras pada lehernya, sementara kedua kaki romlah menggelepar-gelepar.

” Mampus luh, perempuan sundel…” umpatnya, sambil memperkeras cekikannya.

Akhirnya gerakan kedua kaki romlah yg menggelepar terhenti, upaya perlawanan tak lagi dirasakan oleh bagol, seraya dilepaskannya cekikan pada leher wanita itu. Mata yg senantiasa mengerling genit saat diarena ngibing itu kini justru mendelik kearahnya, namun tanpa nyawa.

Dirasakan cairan hangat mengalir dari pipinya, yg setelah diraba ternyata darah akibat sabetan tusuk konde romlah.

” Sial,,pipi gua kesabet peso’ tuh perempuan..” umpatnya dalam hati, seraya dilihatnya benda yg dikiranya pisau yg masih dalam genggaman romlah. Dicobanya merebut benda yg ternyata tusuk konde itu, ternyata sulit, seolah dalam kematiannyapun perempuan itu tidak rela memberikan tusuk konde yg telah merobek pipi kirinya itu. rasa penasaran memancingnya untuk berusaha mengambil benda itu, namun tetap sulit,seolah cengkramannya begitu kuat. akhirnya pria itu merelakannya, walau sebetulnya bisa saja dia memotong jari-jari yg mencengkram benda itu dengan golok yg ada dipinggangnya, namun toh dipikirnya benda itu tak ada gunanya untuknya, dan hanya membuang-buang waktu saja.

Bagol terdiam sejenak, seolah otaknya sedang berpikir. setelah mendapatkan titik terang untuk rencana yg akan dilakukan selanjutnya, diseretnya mayat romlah.

Dengan menembus lebatnya hujan, bagol menyeret mayat romlah. ” ah, sial dangkalan tuh mata..” pikirnya. Entah mengapa setiap kali pandangannya mengarah pada mata mayat yg mendelik itu hatinya gelisah, padahal bukan yg pertama kali ini saja ia melenyapkan nyawa orang, mungkin puluhan kali,atau ratusan, diapun tak terlalu mengingatnya. Tapi perempuan yg baru saja dibunuhnya ini, sinar mata mayat itu seolah menuntut suatu perhitungan dengannya, ” mustinya gua cungkil tadi mata’nya..” umpatnya lagi dalam hati.

Hanya beberapa puluh meter kemudian pria itu tiba dilintasan rel kereta api, seraya dihempaskannya mayat romlah ditengah rel, ” bentar lagi kreta dari surabaya bakal dateng, biar mejret sekalian mayat lu dilindes tuh kreta, cuiih..” ujarnya, yg diakhiri dengan meludahi wajah mayat itu. dan kembali tatapan mata mayat itu menusuk nyalinya, yg membuatnya ciut.

Hujan semakin deras, suara angin yg menderu-deru bagaikan dengusan ribuan hewan liar, berpadu dengan gemuruh halilintar yg seolah memecahkan jagat, yg membuat malam itu semakin mencekam, seolah dunia tengah sekarat dalam hembusan nafas terakhirnya. Gerbong-gerbong kereta bekas yg teronggok disitu seolah menjadi saksi bisu malam jahanam yg menimpa sang ronggeng primadona itu.

Bersambung

Author: 

Related Posts