Cerita Sex The PE Teacher – Part 19

Cerita Sex The PE Teacher – Part 19by adminon.Cerita Sex The PE Teacher – Part 19The PE Teacher – Part 19 The Housewife (Side Story) Masih kuingat dengan jelas ekspresi bahagia Nita waktu di ruang IGD tempo hari! Ingin rasanya aku robek senyum itu dengan memberitahukan semua yang sudah aku lakukan dengan pacarnya.. Tapi aku tidak menemukan kekuatan untuk bisa setega itu ke Nita.. Laki laki yang membuatku merasa kembali […]

multixnxx-Please use the rear access! -11 multixnxx-Random goodies (2) -5 multixnxx-Random goodies (2) -6The PE Teacher – Part 19

The Housewife
(Side Story)

Masih kuingat dengan jelas ekspresi bahagia Nita waktu di ruang IGD tempo hari!
Ingin rasanya aku robek senyum itu dengan memberitahukan semua yang sudah aku lakukan dengan pacarnya..

Tapi aku tidak menemukan kekuatan untuk bisa setega itu ke Nita..
Laki laki yang membuatku merasa kembali ‘hidup’ itu sudah menentukan pilihannya.
Tidak ada lagi yang bisa kuperbuat…

…..

SALAH BESAR Ndri! Kamu salah besar!
Masih ada waktu!
Masih ada kesempatan untuk mengubah pendirian Riki!

Tapi apa yang bisa aku lakukan??
Nita lebih muda.. cantik.. masa depannya pun cerah..
Sedangkan aku.. walaupun tubuhku masih bisa diadu dengan cewe cewe di luar sana tapi aku sudah dua kali melahirkan..

“Maaaaaah! Ko dandan sih?? Emang hari sabtu ke kantor juga??”

Anakku yang sulung sudah sangat kritis dengan sekelilingnya..
Pertanyaan itu membuatku bingung untuk menjawab..

“Emmm… mamah ada rapat penting siang ini bang..
Kamu jagain adenya ya dirumah sama papah?
Besok mamah ajak deh jalan jalan ke Ci***k, gimanaaaa???

Wajah Praapta yang tadinya cemberut langsung bersinar,
Diulurkan tangannya kehadapanku lalu jari kelingkingnya ditekuk..

“Janjiiii ya maaah??”

Trenyuh hatiku melihat kepolosan anakku..
Kukaitkan kelingkingku dengannya membentuk gestur yang sudah universal itu..

“Janji! Mmmuuuuaaah! Udah sana turun, abang belum sarapan kn?”

Praapta yang tidak sempat melihat setetes air mataku yang jatuh langsung berlari ke lantai bawah ikut bergabung dengan suamiku dan anakku Laras yng masih berumur 3,5 tahun..

Aku sengaja memakai setelan resmi agar suamiku tidak curiga,
Aku memakai atasan blazer hitam bergaris garis tipis abu abu melapisi tank top yang cukup menutupi belahan dadaku..
Aku memakai celana panjang katun berwarna hitam juga dengan garis garis abu senada dengan blazer yang kupakai.

Dari luar memang sekilas aku terlihat sangat formal bahkan terkesan tegas dengan setelan kerjaku..
Yang tidak terlihat dari luar adalah fakta bahwa aku tidak memakai dalaman apapun!

Putingku sudah sejak tadi berdiri karena gesekan dengan tank topku..
Vaginaku sudah lembab hanya dari membayangkan apa saja yang alan aku lakukan kepada Riki..
Atau akan diperlakukan seperti apa olehnya!

Kugelung simple rambutku lalu kupilih high heels hitam dengan model tali tali bersaling silang.
Bunyi high heels yang beradu dengan tangga berbahan kayu itu rupanya cukup nyaring sehingga sampai menarik perhatian Suamiku yang sedang sibuk menyuapi Laras, kuhampiri mereka..

“Waaah… Bu Direktur mau kemana ni.. ko rapi banget!?? Hehehe!”

Tersenyum aku mndengar pujian suamiku..
kucium bibirnya ringan, hati hati agar tidak sampai merusak sapuan lipstick di bibirku..
Lalu kucium kening masing masing anak anakku..

“Iya pih ada acara kantor ni bareng sama kantor cabang yang lain, harus pakaian resmi katanya..”

Sosok suamiku yang sebenarnya sangat baik itu justru makin membuatku kesal!
Tidak ada protes sedikitpun mendengar istri tercintanya keluar di hari yang seharusnya khusus untuk keluarga ini..
Aku sebenarnya hanya ingin dia bersuara sedikit..
Tegas sedikit..
Kasar sedikit..

“I’ve been a very naughty girl Mas…”

“Aku brangkat dulu ya Maaass.. jam 3an paling dah beres ko, bye..”

Kustater Avanza hasil jerih payahku sendiri lalu meluncur ke arah Pasir Kaliki..

****

Jam sudah menunjukkan setengah 11 lebih dikit..
Untung aku berangkat lebih awal..
Karena sekarang aku sedang terjebak macet di depan Stasiun Hall!
praktis kendaraan di jalan ini merayap inci demi inci..

Ku BBM lagi Riki,

“Kamu dah berangkat? Ni macet banget loh Ki..”

Berkali kali kutekan klakson mobilku, tidak sabar dengan angkot di depanku yang sempat sempatnya berdebat dengan penumpang soal ongkos! Hadeehhh…

“Iya Teh.. aku dah mau jalan ko, tenang aja aku kan pake motor, hehehe!”

Rasa itu datang lagi..
Rasa iri akan kecuekan Riki..
Rasa ingin ikut dalam aura keceriaan yang selalu dibawanya kemanapun..

“Suit Suiiiiit! Neng.. sendirian aja??!”

Kulirik truk disebelah kananku..
Rupanya kernet truk itu yang menyiuliku.. sialan!
Kaca mobilku memang tidak sepenuhnya gelap, karena sempat kena tilang polisi mengikuti peraturan bahwa kaca mobil tidak boleh full dark..

Kucoba untuk menatap lurus ke depan..
Tidak memperdulikan siulan dan godaan norak kernet truk itu..

“Neng, liat sini dooong, sombong bangat si sama abang!?”

Kuliat sekilas wajah laki laki itu..
‘Hiii.. amit amiiiiitt mukanya mesum abis!’
Sempat aku ingin memaki si abang kernet itu.. tapi sebuah ide gila terlintas di kepalaku..

Kutatap lurus ke arah si Abang Kernet sambil kupasang senyumku yang paling manis!
Sedikit kaget laki laki itu tapi dia tetap melanjutkan godaan godaan noraknya kepadaku..

Lalu kuturunkan tali tank topku sebelah..
Kubuka perlahan tank topku seperti sedang mengupas pisang..

Si Abang kernet itu bengong.. rahangnya sampe menyentuh pinggiran jendela pintunya..

Sebelah payudaraku terpampang jelas menjadi hidangan lezat buat si Abang Kernet..
Kuberi sentuhan pamungkas dengan meremas payudaraku sambil sedikit menggigit bibir bawahku..

‘You can look.. but you can’t touch!’

Kernet malang itu buru buru memanggil temannya si supir,

“Bang sini dulu! Kau liat dulu cewek ini!
Mantap kali bang!
Ditampakkannya tadi barangnya!”

Cepat cepat kunaikkan tali tank topku.. lalu menatap lurus kedepan..

Supir truk itu ikut melongok dari balik kaca bersama si kernet..

“Pukimat kau yaaa! Mana barang yang kau bilang itu!
Panas panas kek gini kau bikin pulak aku panas!”

Sang kernet malang sukses mendapat hadiah toyoran di kepala..

Mobilku kujalankan karena tampaknya kemacetan di depanku sudah terurai..

“Ki… cepetan..
I’m feeling sooo HORNY already!”

****

End of

The Housewife

Author: 

Related Posts