Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 13

Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 13by adminon.Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 13  The Bastian’s Holiday – Part 13 Chapter II Act I THE SIGN By : Marucil Kuregangkan tubuhku agar terasa rileks. Lalu segera aku melangkah, membuka tirai yang menutupi jendela kamarku agar mentari memberikan cahayanya. Tubuhku kini sudah terasa sangat ringan, sekarang saatnya untuk mandi agar menyegarkan hari ini. Kukalungkan handuk dileherku dan segera menuju […]

multixnxx-Random goodies (2) -6tumblr_nqnrz4eP9E1u0zpsgo10_1280  tumblr_n739diXYw71txrs6go5_500

The Bastian’s Holiday – Part 13

Chapter II
Act I
THE SIGN
By : Marucil

Kuregangkan tubuhku agar terasa rileks. Lalu segera aku melangkah, membuka tirai yang menutupi jendela kamarku agar mentari memberikan cahayanya. Tubuhku kini sudah terasa sangat ringan, sekarang saatnya untuk mandi agar menyegarkan hari ini. Kukalungkan handuk dileherku dan segera menuju kamar mandi untuk mandi.

Selesai mandi aku segera memakai pakaian santai karena aku tahu hari ini aku belum ada agenda. Kunyalakan Player musikku dan kulantunkan lagu – lagu metal agar membuat pagi ini menjadi semakin bersemangat. Tunggu dulu Pagi ? Ini sudah tidak lagi pagi, Mentari sudah hampir sampai diatas kepala. Dan diluar kulihat cuaca cukup terik, tampaknya tak ada tanda tanda hujan untuk Hari ini. Sayangnya aku tak punya agenda.

Beberapa saat lalu.
Bandung Marissa PoV

“Pagi Saay, gimana perjalananya semalam?” Tanya Shean kepadaku.

“Yah gitu lah say, maaf ya semalam Gue langsung tidur, capek banget gue Say.” Jawabku.

“Iya gak apa – apa, makan yuk! Dah Gue siapin tuh.” Ajaknya.

Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Setelah aku membersihkan diri, aku segera menuju ruang makan di Kontrakan Shean. Ia dan Nela sudah menunggu disana. Aku duduk dan segera Shean menyiapkan makanan untukku. Kami bertiga makan bersama. Setelah itu kami ngobrol sebentar di ruang tamu. Shean meninggalkan aku dan Nia karena dia ingin bersiap siap.

“Beb….” Tanya Nela kepadaku.

“Apaan Beb” Jawabku seadanya sembari menyalakan rokok.

” Eh Bastian itu cowok yang waktu itu Lo ceritain kan?” Tanya Nela sambil meraih pematik yang kupegang.

“Iyee, dia cowok yang gue ceritain waktu itu, menurutlu gimana anaknya?” Tanyaku

“Yah walaupun pendek anaknya cukup manis sih, tapi Lo serius Beb?” Jawab Nela.

“Yah gak tahu, Gue masih belum siap, ngebayangin aja gue belum bisa.”
“Lihat Ntr aja deh Beb…”

“Yah itumah terserah Lo Cha, masalah Hati mah cuma Elo yang bisa nentuin..” Sahut Nela sambil menyentuh pahaku.

MUachhhh..
“Ngobrolin apa sihhh serius bener kedengerannya.” Sandra datang tiba tiba dan langsung mencium pipiku.

“Ihhh, baru bangun dah nyium nyiumm, Bau tau tuuh muluut” protesku.

“Ahhh biarin, kamu nya jam berapa semalam aku kangen tahu sama kamuu.” Sahut Sandra sambil duduk disebelahku dan langsung memeluk tubuhku.

“Lupa semalem nyampe jam berapa, begitu nyampe langsung tidur gue..” Jawabku.

“Ahh si Icha Mah dari Jakarta ke Bandung gue ditinggal nyupir sendiri, tega lu maah” Ketus Nela.
“Yaahh Beeeb, semalem gue beneran cape banget..” Jawabku seadanya.

“Hmmm gimana gak cape habis ngewe ama cowo barunya” Kata Nela

“Beeb, Lo dah gak belok lagi, cowoo siapa yang bikin lo normal lagiii, kasihh tahu..” Tanya sandra sambil menggoyang tubuhku.

“Ahh Elu ember dehh, entr gw ceritain semuanya, sekarang gw mau mandi dulu.” Sahutku menghindar dari pertanyaan itu.

“Bareeng” Kata Nela dan Sandra serempak.

Akhirnya kami bertiga tersenyum dan bergegas masuk kedalam kamar mandi bersama.

*—–*

Aku duduk diteras depan memainkan gadgetku sembari menunggu kopi yang tengah dibuatkan oleh Mba Habibah. Banyak sekali chat masuk hari ini. Kubalas seperlunya. Salah seorang temanku yang sama – sama kuliah di Jogja mengajaku bermain Futsal besok siang, bolehlah sudah lama juga aku tak bermain futsal. Aku langsung mengiyakan ajakan itu.

Tak lama Mba Habibah datang membawakan secangkir kopi hitam buatanya. Ia menyajikan diatas meja bersama makanan ringan pendamping meminum kopi. Mba Habibahpun berlalu, aku kembali sibuk dengan layar smartphonku. Tidak ada pesan yang cukup penting yang harus aku layani.

Bosan segera melanda, kumainkan saja sebuah game yang baru ku download, cukup menarik namun begitu cepat aku permainan hingga tak terasa permainan akan segera tamat. Aku kembali merasa bosan. Kembali aku seruput air Kopi yang sudah sedikit dingin. Aku juga menggigit camilan yang tadi di sajikan oleh pembantuku itu.

Apa lagi yang harus kulakukan hari ini. Kucoba masuk kedalam Group Chat Lima Serigala. Namun hanya Radit yang merespon. Radit masih berada di Bandung bersama keluarganya. Memang selepas SMA ia dan keluarganya pindah ke Kota bandung karena setelah ayahnya pensiun keluarganya memutuskan pindah ke Bandung untuk mengurus sebuah perkebunan milik keluarganya.

Entah kenapa dengan 4 sahabat baikku ini. Seminggu yang lalu mereka begitu mengharapkan kehadiranku. Namun ketika aku sudah ada mereka hilang entah kemana. Menyebalkan memang mereka berempat. Terakhir mereka merespon Chatku kita telah menyepakati bahwa sabtu ini kita akan mengadakan sebuah pertemuan di Cafe faforit kami berlima.

Setelah Radit tidak membalas chat dariku, aku meletakan gadgetku diatas meja. Lalu kuambil bungkus rokokku yang tadi kuletakan disamping cangkir. Kunyalakan rokok kesukaanku. Lalu kulayangkan pandanganku kearah jalan diperumahanku. Sepi, ya karena jam segini sebagian warga disini memang sedang bekerja, jadi yang terlihat dijalanan hanyalah lalu lalang beberapa pembantu rumah tangga yang baru saja pulang berbelanja.

Merasa tak ada lagi sesuatu hal yang menarik untuk kupandang. Kusenderkan punggungku kebelakang, kunaikan kakiku dikursi yang lain dan mulai kupejamkan mata. Aku kembali membayangkan wanita yang didalam mimpiki tadi. Wanita yang tidak pernah aku tahu siapa dia. Yang kuingat hanya senyum dan matanya yang indah. Rambutnya pendek dan kulitnya sangat bersih. Walau kutahu wanita yang sudah beberapa kali datang dalam mimpiku itu memiliki paras yang cantik. Namun aku belum bisa menebak siapa sebenarnya wanita itu. Apakah orang yang selama ini aku kenal, atau akan ada seseorang yang akan datang dalam kehidupanku.

Bagiku mimpi adalah sebuah pertanda. Karena aku percaya mimpi datang dengan satu tujuan. Tujuan yang hanya bisa diketahui sang pemberi mimpi. Dan aku percaya mimpiku kali ini juga memiliki sebuah tujuan. Tujuan yang pasti aku temukan diujung masa depanku.

Cinta.

Mungkin Dia, wanita didalam mimpiku adalah cinta yang akan diberikan sang ilahi kepadaku. Aku berharap seperti itu. Tetapi aku harus memulainya dari mana untuk menemukannya. Kuputar otaku untuk menemukan jawaban. Namun persoalan ini lebih sulit ketimbang ujian semester.

Akan aku cari entah bagaimana caranya.

Sejenak aku melupakan Tante Ocha, wanita yang selama ini mendampingi hidupku. Walau aku begitu menyayanginya, namun aku sadar tidak akan pernah ada cinta diantara kami. Hubungan kami selama ini hanyalah hubungan nafsu yang didasari oleh kasih sayang. Tetapi bukan cinta. Lalu sia Cinta yang akan menemani sisa hidupku?

Mba Icha

Tentu tidak. Dia sudah jelas – jelas melayangkan penolakan terhadapku kemarin. Walau sesungguhnya tak pernah aku berdiat untuk demikian. Aku rasa bukan dia. Wanita didalam mimpiku sangat jauh berbeda dengan sosok Mba Icha yang selama ini kukenal.

Lalu Siapa?

Ditengah pikiran dan hatiku memecahkan pertanda ini, aku dikagetkan oleh suara memeking dari nada dering Handphoneku. Aku langsung membuka mataku dan meraih Handphone yang kuletakan diatas meja. Lalu kulihat di layar gadgetku, tertera nama Marissa Agustin disana. Rupanya Mba Icha menelpon. Ada apa ini? Tidak biasanya ia menelponku!. Bahkan hampir tidak pernah ia menelponku, karena selama ini ia hanya memberikan pesan singkat atau chat saja untuk menghubungiku. Tetapi kenapa saat ini ia menelponku. Langsung saja kusentuh layar gadgetku untuk menerima telpon dari Mba Icha.

“Assalamualaikum” Mba Icha memberi salam dari balik telpon.

“Ehh.. Wallaikum Salam.” Jawabku.
“Ada apa Mba tumben nelpon” Lanjutku bertanya.

“Gak apa apa, iseng aja tadi. Kamu lagi ngapain? Pasti baru bangun yahh?”

“Ini lagi duduk aja sambil ngopi didepan teras. Mba sendiri lagi ngapain? Semalam jadi Ke Bandungnya?” Kataku balik bertanya.

“Jadi, semalem gak lama kamu kamu pulang, aku sama Temenku langsung kebandung, yaa sampe tengah malem kalau gak salah.”
“Hmmm. Mama Papa pasti lagi kerja yah?” Jelas Mba Icha.

“Ohh gitu. Iya mereka dah dari pagi kan berangkat kerja.” Jawabku agak bingung.

“Mama kamu rajin yah? Bukannya sekarang lagi pada liburan yah?” Tanya Mba Icha lagi.

“Yah gitu Mama, padahal kan dia bisa aja gak usah ke kampus, lah wong pasti dikampusnya mahasiswanya juga pada libur.” Jelasku.

“Oh gituu yaah,Oh ya Bas Nanti kalau Papa Mama kamu dah pulang sampain salamku lagi yah, bilangin makasiih” sahutnya.

“Iya Mba nanti aku sampaiin kok”
“Oh iya Mba, Mba ada apa yah nelpon aku? Masa cuma mau nyampein salam ke papa dama Mama sih” Tanyaku menelisik.

“Yah kepengen aja nelpon kamu, memang aku gak boleh Telponan sama kamu”

“Cie Cieee Bebeb lg telponan sama cowonya yaahhh” Kudengar lirih suara seseorang berseru dibelakang Mba Icha.

“Yah Boleh sihh, eh itu siapa Mba yang teriak teriak dibelakang?” Tanyaku.

“Ah itu temen temen aku pada iseng.”

“Rame yah Mba disana?”Tanyaku.

“Iya ini rame banget, temen – temen model dulu lagi pada ngumpul yah jadi pada kepo nih.” Jelasnya.

“Baaas?…”

“Iya Mba kenapaa?”

“Gak apa apa kok, oh iya aku Gak ganggu kamu kan?”

“Enggak kok malahan seneng jadi ada temennya, habis bete dari tadi sepi banget, mau keluar panas banget kalau pake motor……..”

Akhirnya kami berbincang melalui telpon cukup lama. Hampir semua Hal kami bincangkan. Dari nada bicara Mba Icha memang aku tahu masih ada sesuatu yang ia sembunyikan. Tadi aku sempat mendengar ia akan menanyakan sesuatu, namun ia mengurungkan niatnya. Aku jelas tak tahu apa yang akan ia sampaikan, dan aku juga tak mau memaksanya untuk memberitahukannya. Namun sepertinya itu merupakan hal yang cukup penting untuk disampaikan. Tetapi kenapa Mba Icha tidak lugas seperti biasanya.

“Ya Udah deh Bas, udahan dulu yah, kayaknya aku mau Jalan nih sama Temen – temen aku, gak apa – apa kan?”

“Iya gak apa – apa kok, ya selamat bersenang senang deh kalau gitu.” Sahutku.

” Sama – sama Bas, kamu juga nikmatin liburannya yah, Byee.”
“Assalamu Alaikum.” Kata Mba Icha mengakhiri perbincangan panjang kami di telepon.

“Wallaikum salam..” Jawabku

-***-
Tak lama mobil Mama pun datang, rupanya ia pulang cepat hari ini. Lalu pintu depan terbuka dan Papa keluar dari kursi kemudi. Rupanya mereka pulang bersama. Kemudian Menyusul keluar dari dalam mobil dan segera menghampiriku sambil tersenyum. Tak lama Mang Ujang datang membawa mobil Papa.

“Kok pulangnya barengan sih Ma?” Tanyaku sambil mencium tangannya.

“Tadi Papa minta ditemenin, katanya mau beli sesuatu buat kamu.” Jelas mama.

“Memang apaan?” Tanyaku

“Udah nanti kamu juga tahu, Mama masuk dulu yah mau mandi Mama.”

Lalu Papapun menghampiriku setelah sebelumnya mengambil sesuatu dari mobilnya. Kulihat Papa membawa sebuah bungkusan besar yang masih terbungkus plastik putih. Ia segera meletakan bungkusan besar itu diatas meja dan duduk disebelahkau. Aku penasaran apa yang ia bawa.

“Itu apaan Pah?” Tanyaku dengan penuh penasaran.

“Niih Bukaa duluu dong” Jawab Papa sambil menyengirkan bibirnya.

Perlahan aku meraih bungkusan itu, lalu aku membuka untuk melihat isi dari bungkusan ini. Setelah kukeluarkan kotak didalam bungkusan itu aku sangat terkejut, ternyata isi didalamnya adalah ….

_________________
Bersambung….

Author: 

Related Posts