Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 23

Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 23by adminon.Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 23Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 23 Chapter 16 : BOYFRIEND? ——————————— Ctarrrrr…! Ahhhhh…, dengusku ketika rasa sakit itu mendera punggungku. Sayang, tahan ya, katanya ketika dengan perlahan, sebuah dildo berukuran jumbo dimasukkan kedalam vaginaku yang masih becek, sisa sperma dan cairanku tadi. Ahhhh, sayang… pelan…, bisikku ketika mili demi […]

tumblr_nnqjr4Ou371tp7wv0o2_500 tumblr_nnqjr4Ou371tp7wv0o3_500 tumblr_nnqjr4Ou371tp7wv0o4_400Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 23

Chapter 16 : BOYFRIEND?
———————————

Ctarrrrr…!
Ahhhhh…, dengusku ketika rasa sakit itu mendera punggungku.
Sayang, tahan ya, katanya ketika dengan perlahan, sebuah dildo berukuran jumbo dimasukkan kedalam vaginaku yang masih becek, sisa sperma dan cairanku tadi.
Ahhhh, sayang… pelan…, bisikku ketika mili demi mili dildo itu masuk ke dalam vaginaku.
Plaaakkkk….
Pantatku terasa perih, ketika telapak tangannya menampar pantatku yang menungging.
Perlahan, sebuah benda kecil dimasukkannya kedalam celah pantatku.
Ughhh…, sayang…udah… desahku tak berdaya ketika benda yang dimasukkannya tadi perlahan bergetar ringan dipantatku.
Perlahan, sangat perlahan… tangannye menggelitik paha dalamku.
Aku tak berdaya!
Dengan tangan terentang dan terikat dikedua sisi, rasa yang kutunggu itu semakin dekat.
Semakin kasar.
Semakin dekat.
Semakin nikmat.

———————————
Lidya POV.

Omelan yang sudah siap kusemprotkan tertahan diujung lidahku.

Nick?

Terkejut sayang? tanyanya sambil tersenyum.

Pandangan matanya menyapu pakaianku yang memperlihatkan sekilas puting payudaraku yang sedikit tercetak dipermukaan jubah mandi ini.

Eh, masuk dulu Nick, jawabku sambil sedikit menepi, sehingga dia bisa masuk.

Darimana kamu tahu kalau aku ada disini sekarang? tanyaku penasaran .

Sedikit bertanya kepada security di perusahaanmu, kemudian mencari tahu alamat G-Team yang lumayan mudah- di Google, jawabnya. Masih dengan senyuman khasnya.

Maaf, aku lupa ngasi tau kalau aku sekarang disini sementara waktu, kataku pelan.

Nafsuku sirna ketika rasa penyesalan mendera. Satu-satunya orang yang mau mendampingiku selama ini. Aku lupa memberi tahu kalau pindah!

Mau minum apa Nick? tawarku.

Apa yang kau punya? tanyanya sambil tersenyum jahil.

Air putih, teh, kopi?

Kalau begitu aku pilih kopi, katanya sambil memperhatikanku.

Dengan rasa bersalah masih menghantui, aku pergi kedapur. Masih ada sisa air hangat. Kuseduh segelas kopi dan segelas teh.

Ini Nick, seruku. Sambil memberikan kopi yang baru kubuat kepadanya.

Ada apa Lid? Ada masalah? tanyanya. Seperti biasa, dia selalu tahu kalau aku ada masalah atau bagaimana.

Lumayan Nick, jawabku lesu.

Oke, ada apa? tanyanya, tidak menuntut, namun aku tahu. Dia tidak akan berhenti sebelun aku menjawabnya.
.
Perusahaanku dan G-Team, sedang membuat suatu program untuk Alfa Medika, kataku, sambil melihat wajah Nick.

Alfa Medika? Perusahaan obat-obatan itu? tanyanya memastikan.

Iya Nick, jawabku. Kami sedang membuat program itu, ketika leading programmer dari G-Team, meninggal, kemarin, kataku pelan.

Meninggal? Meninggal karena apa? tanyanya sambil menyesap kopi yang aku buatkan.

Itu yang menjadi permasalahannya, polisi bahkan pagi ini sudah bertanya-tanya kesini, jawabku sambil menunduk.

Sekarang aku bingung, siapa yang akan memimpin programmer-programmer itu? Sedangkan CEO dari G-Team sedang ke Semarang mencari data, mungkin sekarang baru akan nyampe.

Mengapa tidak kau saja Lid? katanya sambil menatap kearahku.

Tatapan yang selalu bisa menyejukkanku.

Aku ragu Nick, sebagian besar anggotanya bukan dari perusahaanku dan sebagian besar cowok Nick! seruku, ragu.

Tidak masalah kan? Kalian bekerja secara profesional kan? saran Nick, seperti biasa. Menjadi sumber inspirasiku.

Benar juga Nick, thanks, selalu memberikanku saran yang berguna, katu sambil mengacungkan jempol kearahnya.

Huftttttt…, benar juga, kenapa tidak aku saja yang jadi leading programmernya?

Bodoh!

Pikirku, sambil memijat pelan tengkukku yang terasa sakit.

Hmmmm, upahnya apa? sambil nyengir Nick mendekatiku.

Oh no!

Andri POV.

Akhirnya!

Sampai juga.

Pikirku. Ketika terlihat bangunan perusahaanku dikejauhan.

Pinggang ini terasa mau copot. Perlu dipijat nih.

Sekilas terbayang pijatan Sisca dan pelayanannya diranjang. Sungguh ingin rasanya aku memutar mobil dan menuju Bidadari Massage.

Andri! Ada yang lebih penting kau lakukan sekarang!

Lebih penting memberikan flashdisk yang berisi data yang berhasil aku kumpulkan di Semarang daripada pijat.

Dan bisa melihat si-celana-dalam-putih.

Aku masuk dan menuruh mobil Frans di parkiran. Setelah itu menuju resepsionis.

Frid, Edy atau Frans ada di messnya atau dikantor? tanyaku pada Frida, resepsionis.

Pak Frans keluar sama Mbak Lisa pak, kalau Pak Edy, baru saja pulang pak, jawabnya.

Waduh, Erlina atau Lidya ada? tanyaku lagi.

Mbak Erlina rasanya sudah pulang pak, kalau Mbak Lidya, rasanya dikamarnya pak, terang Frida.

Oke.Mungkin aku bisa berbicara dengan si-celana-dalam-putih dulu.

Thanks Frid, Katak u ambil melangkah ke arah messnya si-celana-dalam-putih.

Eh…, pak, tegur Frida.

Iya Frid? tanyaku.

Terlihat Frida ragu sejenak.

Maaf pak, tidak jadi, katanya setelah berpikir sejenak.

Ada-ada saja. Pikirku. Sambil menuju ke mess.

Sambil naik di lift, aku membayangkan pertemuan terakhirku dengan si-celana-dalam-putih di messnya.

Sel-sel kelabu yang terbiasa dengan pikiran mesum pun berfantasi ria.

Semakin dekat dengan messnya, entah kenapa aku semakin berdebar.

Tapi, tunggu!

Suara apa itu?

Kudengar suara pelan, seperti suara si-celana-dalam-putih, namun, terdengar juga suara lelaki!

Penasaran aku melangkah dengan pelan.

Suara itu semakin jelas…!

Udah Nick, cukup! suara lirih suara si-celana-dalam-putih.

Masih belum Lid, tanggung nih… suara seorang lelaki menimpali.

Jangan dimasukin ……. Nick, aku…,

Tak kusadari jantungku berdebar lebihkencang dengan tangan yang mengepal.

Andri, dia bukan siapa-siapamu!

Namun rasa penasaran dan marah lebih mendominasi.

Dengan sengaja aku keraskan langkah kakiku, tiga meter dari pintu aku pura-pura batuk.

Uhuukkkk…uhuuukkk…uhukkk….

Dan akhirnya aku sampai dipintu yang terbuka!

Dan kulihat si-celana-dalam-putih, sedang..

Sedang…

Sedang dipijat!

Namun pakainnya saat ini.

Hanya sebuah jubah mandi merah marun yang pendek, paha putihnya bisa kulihat mengintip dari bawah jubah itu!

Eh, Mas Andri, seru si-celana-dalam-putih. Terlihat kejut diwajahnya. Tangannya terburu-buru merapikan jubah mandinya.

Sejenak keadan menjadi kaku diantara kami.

Lelaki yang berada dibelakang si-celana-dalam-putih, bergantian memandangi aku dan si-celana-dalam-putih.

Eh… Kalau masih sibuk, aku balik entar, kataku sambil berbalik.

Bodoh!

Bodoh…!Bodoh…!Bodoh…!!!

Mas, tunggu!

Bisa kudengar panggilan Lidya dari belakangku.

Namun kukertakan gigi dan berjalan lebih cepat. Ingin sekali rasanya aku menoleh dan melihatnya, namun harga diri dan gengsi mengalahkan segalanya. Kupercepat langkahku dan menuju mess Frans, tepatnya, messku dan mess Frans sementara ini.

Sampai dimess Frans aku membuka gagang pintu. Namun terkunci. dan aku belum meinta kuncinya dari Frans!

Sialan!!!

Sungguh hari yang menyebalkan. Tunggu!

Aku lupa memberikan flashdisknya kepadanya.

Be profesional Ndri!

Dengan langkah malas aku kembali melangkah ke mess si-celana-dalam-putih.

LIDYA POV

Siapa Lid? tanya Nick dibelakangku, tangannya dengan lembut memegang pundakku.

Mas Andri, CEO perusahaan partnerku Nick, jawabku pelan.

Ouwhhhh, perlu aku jelaskan hubungan kita? tanya Nick, memberikan solusi, seperti biasa.

Tidak perlu, ini urusan pribadiku Nick, urusanku dengannya urusan profesional. Tidak ada hubungannya dengan ini, sahutku ringan.

Semoga.

Ada masalah lagi Lid? Tanya Nick, terlihat pandangan khawatir diwajahnya.

Tidak Nick, aku baik-baik saja kok, jawabku sambil tersenyum.

Tidak, aku tidak baik-baik saja Nick.

Tapi ini masalahku, bukan masalahmu.

Kulihat senyum pengertian diwajahnya.

Lama di Jakarta Nick? tanyaku.

Gak Lid, aku mau balik sekarang, jawabnya lembut.

Sekarang? tanyaku heran.

Iya, aku ada pesta besok malam? Mau ikut Lid? katanya sambil tersenyum jahil.

Sementara ini tidak, jawabku sambil balas tersenyum.

Oke, and remember, aku selalu siap untukmu,

Nick perlahan melangkah melewati pintu.

Perlahan dia berbalik dan merentangkan tangannya. Seperti biasa aku lari kedalam pelukan hangatnya. Dengan tersenyum kupandang matanya yang menatapku.

Kulihat kasih sayang disana.

Sama, seperti sebelum-sebelumnya.

Perlahan Nick menurunkan kepalanya dan memberikan ciuman ringan didahiku.

Aku lepaskan pelukanku dibadannya yang terasa nyaman dan menoleh kearah lift.

Dan disana.

Terlihat si-mata-keranjang menatapku dengan pandangan mata yang sukar ditebak!

Sejenak aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Ingin rasanya berbalik dan melanjutkan kegiatanku yang tertunda tadi.

Tidak…

Ouwhhh tidakkk….

Si-mata-keranjang melangkah mendekatiku. Kulihat Nick berjalan dan mengangguk kepada si-mata-keranjang. Yang dibalas dengan enggan oleh si-mata-keranjang.

Dan tatapan mata si-mata-keranjang terlihat marah.

Tatapan matanya marah?

Marah?

Kami bertatapan sejenak.

Lidahku terasa kelu.

Ehhh, a..ada yang bisa Lid bantu mas? tanyaku dengan gugup.

Cuma mau ngasi data yang aku dapat di Semarang, kalau tidak mengganggu, jawabnya. Kudengar nada sinis dalam suaranya.

Tidak mengganggu kok mas, jawabku.

Eh, masuk dulu mas, ajakku.

Sejenak kurasakan badannya menegang sebelum dia berjalan masuk.

Kucium bau keringat yang khas ketika dia lewat didepanku. Perlahan putingku mengeras membayangkan apa yang menimbulkan aroma itu.

Pasti karena efek nanggung tadi, pikirku.

Kulihat Mas Andri duduk dikursi ruang tamu.

Data apa mas? tanyaku sambil duduk didepannya.

Data mengenai alur produksi dan semua file foto dan video yang aku ambil di Semarang Lid, sahutnya lirih.

Kurasa ada yang aneh.

Apa ya?

Dia memanggil namaku untuk pertama kalinya tanpa embel-embel mbak!

Tunggu sebentar mas, aku ambil laptop dulu, jawabku sambil mengambil laptop yang ada di kamar tidur. Sampai di kamar kuambil laptop dan menuju keruang tamu.

Hmmm, apa perlu kuganti pakaian dulu?

Sudahlah,cuma sebentar juga.

Kuberikan laptopku kepada Mas Andri dalam posisi aku masih berdiri.

Mas, ini laptopnya, kataku kepada Mas Andri.

Iya Lid…ya,

Laptop yang kuberikan belum juga diambil oleh Mas Andri.

Sejenak aku bingung kenapa Mas Andri diam saja.

Tatapan matanya terfokus kesatu titik.

Sialan!

Dadaku terbuka lebar dari sela-sela jubah mandi yang kupakai.

Dengan wajah panas aku duduk dan meletakkan laptopnya dimeja.

Sejenak Mas Andri masih tertegun.

Perlahan wajahnya dialihkan dariku, tangannya sedidkit bergetar ketika membuka laptopku dan menghidupkannya.

Dengan wajah panas kulirik kearahnya.

Huffffttt, dulu melihat celana dalamku, sekarang melihat dadaku!

Curaaaanggggg….

Aku belum melihat punyanya…

Ahhhh…ahhh…

Harder..!!

Ahhhh….,

Adduduuuuuududuuuhhhhhhh!!!

Aku lupa laptop ku dari kemarin standby dan terakhir aku sedang menonton salah satu film public pickup di laptop!

Mas!!! tegurku dengan wajah merah padam. Bisa kurasakan aliran darah terasa mengumpul diwajahku.

Sambil tersenyum mesum si-mata-keranjang mematikan video yang kuputar.

Dan…

Oh my god!

Kulihat tonjolan yang cukup besar dicelananya!

Itu pasti karena menonton film yang tadi, pasti.

Hening ketika kami menunggu transfer data selesai.

Lid, bawa chargernya? Baterainya hampir habis, kata si-mata-keranjang sambil menunjuk lampu indikator baterai yang mulai berkedip.

Ada Mas, sahutku. Sambil dengan agak melayang menuju ke kamar dan mengambil charger.

Aku pasangkan charger dicolokan dinding, namun kabelnya ternyata tidak cukup panjang.

Mas, kabelnya tidak cukup, kataku ketika kabel charger tidak sampai di laptop.

Itu ada kabel roll didinding, sahut si-mata-keranjang sambil menunjuk ke rak didinding.

Aku menuju dinding yang ditunjuknya, namun sialnya, rak yang dimaksud cukup tinggi.

Kucoba meraihnya namun tidak bisa.

Kumenoleh kearah si-mata-keranjang dan melihat matanya tak berkedip memandang pahaku yang terbuka karena berusaha mengambil kabel rollnya.

Dasar mata keranjang!

Uggghhhhh, kenapa juga menaruh kabel roll ditempat yang tinggi seperti ini.

Kucium aroma keringat seperti tadi dan sebelum kubisa berbalik, sebuah tangan melewati bahuku dan mengambil kabel roll yang terletak di rak.

Deggggg.!!!

Bisa kurasakan aroma keringat itu memenuhi udara disekelilingku. Tangan yang keras melintas pelan diatas bahuku. Dan dada yang bidang , kurasa, menggesek pelan punggungku. Putingku mengeras merasakan aura intim yang semakin intens.

Dug…bisa kudengar kabel roll itu sekarang diletakkan dilantai. Hening sejenak, sampai-sampai aku bisa merasakan bunyi nafasku yang semakin tak beraturan.

Lid…, bisa kurasakan getar dalam suara si-mata-keranjang, sebeblum tangannya memutar pelan bahuku.

Matanya kelam berkabut gairah!

Tek…

Tak sadar aku mundur sampai menempel didinding.

Namun dia tak berhenti.

Perlahan tubuhnya yang lebih besar dariku merangsek maju hingga nyaris tak ada jarak diantara kami.

Tangan kanannya sekarang diletakkan disebelah kepalaku, nafasku semakin tak beraturan!!!

Perlahan…

Perlahan bibirnya mendekat…

Jari tengah dan telunjuknya dengan lembut mengangkat daguku.

Tak sadar mataku terpejam.

Lidya, ini salah!

Lidya, ini tak boleh!

Lidya, dia bukan apa-apamu!
Disatu sisi aku ingin menolak.

Bisa kurasakan nafasnya dipipiku.

Ayooo.

Cium aku!!!
Disisi lain aku mendambakan sentuhannya!

Nafas itu semakin dekat, tak sadar kubuka pelan bibirku, mengundangnya…

Sedikit lagi…

Mbak, kok pintunya gak ditu..tup..?

Author: 

Related Posts