Cerita Sex Bermain Hati, Bagian Lima

Cerita Sex Bermain Hati, Bagian Limaby adminon.Cerita Sex Bermain Hati, Bagian LimaEnam – Part 13 BAB III Bermain Hati, Bagian Lima Mata Revi terpejam. Tiga hari yang lalu satu jam dia ngobrol dengan Ima dan diteruskan dengan ngobrol di WA. Ima tahu, ya, Revi yakin kalau Ima tahu, hanya saja Ima terlalu baik untuk melakukan konfrontasi. Ima memang baik. Dia sendiri apa? Kotor. Dulu hampir setiap […]

tumblr_nvjg17swjP1ucvoobo4_540 tumblr_nvjg17swjP1ucvoobo6_540 tumblr_nvjg17swjP1ucvoobo7_1280Enam – Part 13

BAB III
Bermain Hati, Bagian Lima

Mata Revi terpejam. Tiga hari yang lalu satu jam dia ngobrol dengan Ima dan diteruskan dengan ngobrol di WA. Ima tahu, ya, Revi yakin kalau Ima tahu, hanya saja Ima terlalu baik untuk melakukan konfrontasi. Ima memang baik. Dia sendiri apa? Kotor. Dulu hampir setiap hari badannya yang tertutup jilbab itu dijamah dan dinikmati oleh mantannya. Dia selalu bilang kepada Ima bahwa hubungan mereka masih sebatas pas foto. Ke Gio pun hanya bilang baru beberapa kali peting sambil oral dengan mantannya dulu. Walaupun kenyataanya lebih. Revi sudah biasa ditelanjangi, bahkan kadang-kadang meminta untuk ditelanjangi. Entah berapa liter sperma yang sudah dia telan atau tertelan. Walaupun dia masih bisa mempertahankan agar vaginanya masih perawan.
Revi merasa malu, dulu pernah beberapa kali dia kepergok oleh orang lain sedang bercinta dengan keadaan jilbab yang acak-acakan dan baju atasan yang telah terbuka, namun tetap melakukannya dengan mantannya itu.

Revi merasa kotor. Badannya, hatinya dan lebih lagi, penghianatannya. Berhari-hari dia bertanya kenapa. Iya, Gio ada sebagai tempat dia curhat. Tempat dia berkeluh kesah, bahkan meminta tolong. Gio adalah orang yang Revi tidak merasa malu untuk bercerita tentang hubungan yang dia lakukan dengan mantannya, sebagai balasan, Gio bercerita tentang apa saja yang sudah dilakukan bareng Ima. Revi sampai tahu bahwa Ima menyenangi permainan yang sedikit kasar.
Tapi kenapa Gio? Kenapa bukan Bima? Yang jelas-jelas penjahat kelamin, namun toh dia memang menyukai Bima. Dari pertama dia melihat Bima, dia sudah jatuh hati. Jadi kenapa tidak tanggung kotor dengan Bima? Apa Revi hanya memanfaatkan Gio karena dia ingin merasakan hal yang pernah dia rasakan. Geli. Nikmat. Orgasme. Tapi kenapa kini dia mulai memiliki hati untuk Gio?

Lalu ada Rian. Tidak. Rian terlalu baik. Rian terlalu sempurna. Tidak pernah macem-macem dan selalu menjaga hati dan perasaan. Revi tahu, bahwa Rian mencintai dia. Revi tahu, ketika dia memutuskan untuk menerima ajakan jadian mantannya dulu, Rian sangat terpukul. Dan Revi merasa malu, bahwa disaat-saat dia jatuh karena kekasihnya ternyata sudah bertunangan, Rian yang selalu ada biat dia. Dikala sahabat lainnya sedang sibuk, Rian selalu ada.

Revi bangkit dari tidurnya, berdiri menghadap cermin. Perlahan, dia membuka kaosnya, kemudian celana pendeknya. Terlihat sebuah badan yang indah, padat, dan buah dada yang rapih terbungkus BH. Dia pun perlahan membuka seluruh daleman yang dia kenakan higga kini bertelanjang bulat.
Badan ini. Badan kotor ini, yang sudah dinikmati berkali-kali oleh mantannya. Dada ini, yang tiga hari kemarin dicupang oleh Gio. Bekasnyapun masih ada. Vagina ini, yang kemarin dimainkan oleh lidah Gio dan bertahun yang lalu oleh lidah, tangan dan ujung kemaluan mantannya.

Air mata kemudian turun membasahi pipi Revi. Tertunduk Revi menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Revi langsung berlari membuka pintu, keluar kamar tanpa pakaian sedikitpun, berlari ke kamar mandi yang memang tidak jauh dari kamarnya. Menyalakan air, dan menangis sebisa-bisanya.

==================
Jadi?
Jadi?
Ima?
Iya, Ima.
Sore itu di atas loteng rumah Bima, dia dan Yuni duduk memandang taman samping rumah. Keduanya duduk berdekatan, kepala Yuni direbahkan di bahu Bima. Kaki mereka berdua terayun perlahan. Sore itu langit sedikit mendung. Padahal bukan musimnya hujan.
Kepala Bima menoleh, lalu dia mencium kening Yuni. Air mata mengalir membasahi pipi Yuni yang tirus dan mulus. Bima membiarkannya mengalir. Mereka kembali terdiam.
Satrio tahu Bim.
Hah, terus? Tahu sampai batas mana? Dia marah?
Dia gak marah. Yuni gak tahu sampai mana dia tahu. Tapi dia nanya, siapa yang mau Yuni pilih. Sepertinya, jawabannya udah ada ya?
Bima terdiam, lalu berkata Saya tetep sayang kamu Yun.

==================
Icha memutuskan untuk membeli sepatu itu, sesuai dengan selera dan terutama kantongnya.
Bagus Cha, cocok di kamu.
Icha kemudian menoleh ke asal suara, Lidya.
Hai.
Hai.
Kaku. Kejadian tiga hari yang lalu berujung semuanya menjadi kaku. Icha diantar pulang Udin. Namun mereka berpamitan dengan tanpa perasaan, dingin. Masing-masing dengan pikirannya sendiri.
Kemarin kita gila ya? Lidya memulai.
Iya. Maaf ya, sampe kamu di, yaaa, ngerti kan, ama Udin. Dan maaf ampe saya ama Gusti juga gitu.
Cha, kamu gak salah, yang salah itu saya. Saya yang mulai. Hehe. Tapiiii, hihi, saya seneng ko. Gak tau kenapa, tapi setelah kejadian itu, sensainya masih terasa ampe sekarang.
Iya sih. Tapi sakit juga, kamu mungkin udah biasa. Tapi Icha kemarinkan baru.
Hahahaha. Iya, tapi saya juga baru loh di DP kemaren.
Hah? Apaan DP.
Double penetration. Dimasukin depan dan belakang.
Ooooh. Oya, sakit gak?
Banget, tapi nikmat.
Hm, Udah sering ya ama Gusti? Pertama juga ama Gusti?
Sering si enggak. Minimal seminggu sekali tapi, hahaha, sering ya itu? Hmmm, yang depan si bukan ama Gusti, ama temen SMA dulu. Nah yang belakang, baru sama si Betawi edan itu. Dia masuk gak bilang-bilang lagi, saya ladi tiduran, eh, dia maen masuk aja.
Hahahaha, parah juga si Gusti. Berarti masuk tanpa ijin dong? Tindakan pemerkosaan itu.
Hehe, tapi enak ko, jadi saya juga nikmatin aja.
Dasar, eh, ama siapa ke sini, Gusti mana?
Sendiri, dia lagi ke rumah Udin. Memastikan bahwa persahabatan mereka tetap utuh.
Ow, dan mudah-mudahan kita berdua di sini membuat persahabatan yang baru.
Akur.
Ya, asal jangan ujungnya kayak kemaren aja.
Kenapa gitu? Kan enak
Hmmm, iya sih, tapi takutnya kita nanti jadi main hati. Gimana kalo Icha jadi suka ama Gusti dan kamu jadi suka ama Udin ato kebalikanya?
Iya sih, tapiiii, itu kan belum tentu, hhmmm, mau nyoba lagi gak?
Kamu mau?
Jujur ya, mau sih. Sensasinya beda.
Hmm, takut ah, takut entar di DP juga.
Ya elah, dasar. Gitu aja takut.
Lah, liat kamu dijepit gitu sampe teriak-teriak siapa yang jadi gak takut coba?
Iya deh. Tapi mau lagi ga?
Membayangkan penis Udin yang panjang dan milik Gusti yang besar diameternya, juga badan Gusti yang kekar, Icha kemudian menjawab.
Kapan?

==================
Gio hanya terdiam, perkataan Ima barusan menusuk hatinya. Ima tahu, dan Ima tidak marah. Perepmpuan can tik dihadapannya ini tersenyum dengan air mata yang mengalir. Senyumnya tidak dibuat-buat. Tulus dia bertanya, apakah Gio akan terus dengan Ima atau dengan Revi, Ima tahu masa lalu Revi. Dan kalo Gio bisa menjadi obat buat sahabatnya itu, Ima pasrah.
Gio merasa kecil. Malu. Mata Gio mulai berkaca-kaca.
Enggak Ma, Mas memilih Ima. Kemarin-kemarin Mas hilaf. Karena terlalu sering ketemu, tiap minggu, dan Revi sering cerita, kita jadi deket, dan memutuskan untuk maen, tapi udah ko. Mas udah mutusin kalo pilihan hati Mas itu Ima.
Tapi kasian Revi Mas, dia udah mengharapkan Mas.
Tau dari mana?
Kami sahabatan, pasti tau.
Ya tapi gak gitu juga Ma. Pokoknya kami udah selesai ko. Gak lagi. Mas hanya menginginkan Ima buat jadi pendamping hidup Mas.
Mereka terdiam untuk beberapa menit. Ima kemudian mengambil teh dan mulai minum. Gio masih memandang lekat-lekat wajah Ima. Cantik. Pikir Gio, paling cantik diantara mantan-mantan dia dulu. Lebih cantik daripada Revi.
Mas udah ngapain aja ama Revi? Selain pegangan tangan? Udah pelukan? Ciuman? Ato jangan-jangan udah pernah diemut lagi ama Revi?
Jiah. Enggak lah. Pegangan tangan doang ko. Suer.
Hehe. Ya sudah. Jadi mau milih Ima aja nih?
Iya. Selalu Ima.

==================
Hahahahaha, bodoh. Atika berkomentar melihat adegan di layar lebar itu.
Parah ya? Tanya Rian sambil menoleh ke arah Atika. Pada saat yang bersamaan, Atika pun menoleh ke arah Rian. Mata mereka bertemu. Waktu seakan-akan berhenti. Dunia serasa milik berdua. Wajah mereka saling mendekat. Mata Atika sudah sedikit terpejam. Mata indah itu sangat menggoda, pikir Rian. Namun di kepalanya masih ada Revi. Di hatinya masih ada Revi. Tapi mata itu, bibir itu yang merah merekah siap untuk di lumat.
Akhirnya Rian menyerah. Diciumnya bibir Atika. Dilumatnya. Dimainkannya. Mereka berciuman sampai beberapa saat kemudian berhenti. Lalu keduanya tersenyum.
Rian sayang kamu Tika.
Tika juga sayang Rian.
Kemudian Atika memeluk tangan kanan Rian, kepalanya bersandar dibahu Rian.
Hangat, empuk. Pikir Rian ketika merasakan buah dada Atika menempel ditangannya, dikecukpnya jilbab Atika di bagian kepala. Kemudian mereka berdua kembali menonton, dengan jantung yang berdebar-debar. Karena senang, bahagia, dan takut ada yang melihat kejadian tadi.

——bersambung——

Author: 

Related Posts